Agama sebagai kontrol sosial dapat menjadi media dalam menjaga persaudaraaan. Jayapura menjaga prinsip setuju dengan perbedaan.
“Dari Papua kita persembahkan untuk Indonesia”. Itulah kalimat penutup dari Bupati Jayapura, Mathius Awoitauw, saat mengakhiri sambutannya di Aula Kantor Pemerintah Kabupaten Jayapura, Sentani, Papua. Hari itu, 28 Mei 2016, Menteri Agama (Menag) Republik Indonesia, Lukman Hakim Sayfuddin, sengaja hadir di hadapan tokoh masayarakat Papua menyaksikan dialog pencanangan zona integritas kerukunan antarumat beragama.
Rencana Bupati Mathius memulai zona integritas dari Timur Indonesia kini terkabul. Gayung pun bersambut setelah dua kali ia bertemu dengan Menteri Agama. “Tidak mudah untuk menghadirkan Menteri Agama di sini. Sudah dua kali saya bertemu, kita bersyukur hari ini Bapak Menag ada di samping kita,” ujar Mathius.
Dari berita yang dimuat oleh tabayyunnews.com pada 25 Juli 2015 menyebutkan, jumlah penduduk Papua sekitar 2,4 juta jiwa. Jumlah ini terbagi ke dalam enam kelompok agama, yakni Islam sebanyak 900 ribu jiwa atau mencapai 40%. Sisanya, 60 persen merupakan gabungan pemeluk agama Kristen, Katolik, Hindu, Budha dan Animisme.
Masyarakat Papua patut bersyukur. Perbedaan agama dinilai sebagai kekayaan bangsa Indonesia. Penganut agama yang berbeda bisa saling menghargai dan menghormati, saling belajar, dan memperkuat nilai keimanan dan keagamaan masing-masing. Perbedaan ini dikelola dalam wadah Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Jayapura.
Tentu saja, perbedaan tidak perlu dipertentangkan, tetapi dijadikan sebagai pembanding, pendorong dalam saling berinteraksi secara baik dan benar. Masyarakat dengan agama yang berbeda bisa hidup bersama dengan rukun, damai, bersatu, saling menghargai, saling membantu, dan saling mengasihi. “Kami bersyukur adanya satu forum kerukunan di Indonesia. Ini sangat membantu membangun kebersamaan, membangun pemikiran-pemikiran bersama untuk menciptakan suasana damai,” kata Mathius.
Selama sejarah Indonesia, bangsa ini berdiri kokoh karena ditopang oleh berbagai perbedaan. Perbedaan suku, agama, ras, dan golongan ataupun keragaman budaya menjadi tugas setiap warga negara dalam membiarkannya untuk tumbuh subur. “Kami bersyukur, toleransi umat beragama di Papua sangat baik. Ini atas kerja sama semua agama yang ada di tanah Papua dan Kabupaten Jayapura,” imbuhnya.
Di sisi lain, perbedaan kadangkala bagaikan pedang bermata dua, yakni sisi negatif dan sisi positif. Dari sisi negatif, tidak jarang perbedaan dapat menjadi sumber konflik, terutama bila berhadapan dengan kepentingan yang saling bertolak belakang antara satu dengan lainnya. Namun, pluralitas memiliki potensi positif, kalau keragaman mampu dikelola secara baik, sehingga memiliki kekuatan dalam membangun kesejahteraan umum.
Mathius menambahkan, masyarakat Jayapura memang majemuk. Kemajemukan adalah realita yang tidak dapat dihindari, tetapi itu bukan untuk dihapuskan.
Karena itu, kemajemukan harus dikelola dengan baik dan benar agar dapat menjadi pemersatu. Masalah yang sering terjadi di antara pemeluk agama adalah tidak sampainya informasi antar pemeluk agama yang dapat menimbulkan prasangka yang mengarah pada terbentuknya penilaian negatif.
Di sisi lain, agama sebagai kontrol sosial dapat menjadi media dalam menjaga persaudaraan masyarakat yang majemuk. Tokoh agama sebagai orang yang dianggap lebih kompeten dalam masalah agama diharapkan dapat mengubah pola pikir masyarakat modern yang telah lupa pada kodrat awalnya sebagai makhluk yang beragama menjadi lebih tahu mengenai agama yang sebenarnya dan menggunakan kemajuan teknologi pada zaman modern ini sesuai dengan kapasitas yang memang benar-benar dibutuhkan.
Menurut Mathius, tokoh agama pun memiliki peran strategis sebagai agen perubahan sosial atau pembangunan. Ada tiga peran penting yang dapat dijalankan oleh tokoh agama, yaitu peran edukasi yang mencangkup seluruh dimensi kemanusiaan dan membangun karakter. Selanjutnya, peran memberi pencerahan kepada masyarakat disaat situasi tidak menentu. Terakhir, peran membangun sistem, satu tradisi, budaya yang mencerminkan kemuliaan.
Sementara itu, Lukman Hakim memuji upaya Pemerintah Jayapura dan tokoh masyarakat. Ia mengakui, Jayapura sebagai daerah pertama di Indonesia yang mencanangkan zona integritas kerukunan umat beragama. “Pencananangan zona integritas sebagai upaya menjaga kerukunan, kebersamaan, dan persatuan umat beragama,” ungkapnya.
Zona Integritas
Kebersamaan itu semakin terasa ketika Menag bersama jajaran Pemkab Jayapura tiba di stadion Bas Youwe, Sentani, Jayapura. Iringan drum band dari berbagai sekolah menengah pertama turut menyambut kedatangan rombongan.
Tidak hanya itu, sebanyak 300 siswa yang berasal dari tiga SMA juga ikut menyemarakkan pencanangan hari zona integritas. Mereka memasuki lapangan sambil membawakan tarian Kenambay Umbay. Tari kolosal ini menggambarkan kehidupan masyarakat Jayapura yang hidup dari berbagai suku, budaya, ras, dan agama tetapi tetap bersatu.
Sore itu sekaligus menjadi bukti bahwa dari Bumi Jayapura, diawalinya pencanangan Zona Integritas Kerukunan Umat Beragama (ZIKUB). Menag sudah menandatangani prasasti didampingi oleh Wakil Gubernur Papua, Klemen Tinal dan Bupati Jayapura, Mathius Awoitauw. Diperkirakan, sekitar lima ribuan orang menyaksikan acara ini.
Tidak berhenti sampai di situ. Rangkaian acara terus berlanjut, walau sedikit melelahkan. Seharian penuh mengikuti acara pencanangan zona integritas, malam harinya, Menag bersama Bupati kembali menghadiri pembukaan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) ke XXVI Tingkat Provinsi Papua. Pemkab Jayapura menggelar dua kegiatan besar secara bersamaan yakni, Lomba MTQ tingkat Provinsi Papua dan Pesta Paduan Suara Gerejawi (Pesparawi) Tingkat Kabupaten Jayapura.
Mathius mengatakan, kegiatan ini sengaja dilakukan bersamaan untuk menunjukkan kebersamaan di Jayapura. “Ini baru pertama kali terjadi di Kabupaten Jayapura, dua agenda keagamaan dilaksanakan secara bersamaan. Kita sudah berkoordinasi dengan pihak FKUB Provinsi Papua dan Kabupaten Jayapura. Dua forum ini sepakat untuk terlibat secara langsung dalam pelaksanaannya,” katanya.
Pembukaan MTQ juga ditandai dengan iringan lagu Mars MTQ yang dinyayikan oleh para remaja gereja, remaja masjid, dan anggota Badan Kontak Majelis Taklim (BKMT) dalam satu paduan suara. Hal ini disambut perasaan haru yang sangat mendalam oleh Menag sambil bertepuk tangan.
Sebagai penutup acara, malam itu juga, Menag meletakkan batu pertama pembangunan gedung Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran (LPTQ) Kabupaten Jayapura. Pembangunan gedung itu berdekatan dengan Masjid Agung Al-Aqsha di Sentani.
YOKATTA NEWS Saatnya ……. Anda Beralih