Perusahaan farmasi asal Singapura berminat berinvestasi. Diyakini, mereka akan menjadi pengimbang harga obat yang beredar di Indonesia.
Hukum ekonomi berlaku dalam menetapkan harga pasar satu produk. Di kala permintaan banyak di tengah keterbatasan produk, akan membuat harga melambung tinggi. Namun sebaliknya, jika permintaan menurun harga pun akan lebih murah.
Dalam kondisi seperti ini, sudah tentu ada saja pihak yang diuntungkan. Bagaimana tidak, praktik monopoli pun bergerak lebih leluasa, bila hanya ada satu ataupun sedikit perusahaan yang dibutuhkan oleh konsumen.
Namun, hadirnya pesaing dalam pasar akan membuat perusahaan pun putar otak untuk memantapkan strategi dalam mengusai pasar. Tidak hanya itu, semuanya menuntut lebih sempurna baik dari manfaat dan kualitasnya.
Kondisi seperti inilah yang sedang terjadi di Indonesia. Dalam era Masyarakat Ekonomi Asean, telah tersedia ruang bebas tanpa batas bagi seluruh investor di wilayah Asia Tenggara. Kini, semuanya berada dalam satu hamparan luas yang memberikan kebebasan untuk berkarya dan berproduksi.
Situasi ini telah membuat Indonesia banyak dilirik. Sebagai negara besar dengan jumlah penduduk sekitar 234 juta jiwa, Indonesia kini menjadi sasaran. Dengan alasan yang sederhana, sekarang Indonesia menjadi tujuan dan target pasar.
Buktinya, banyak investasi asing hadir di Indonesia. Lebih-lebih, bagi negara di kawasan Asean, sejak dulu sudah berbaur di berbagai daerah dalam satu kawasan ekonomi yang ditetapkan oleh pemerintah. Ikatan psikologis dalam rumpun melayu pun membuat segalanya lebih menyatu.
Yang terbaru, pada 8 pada Mei 2016, perusahaan di bidang farmasi asal Singapura mengaku berminat untuk berinvestasi di Indonesia dengan nilai mencapai US$4 juta (setara dengan Rp55,6 miliar dengan asumsi kurs Dolar AS Rp13.900). Rencana masuknya perusahaan farmasi asal Singapura ini diyakini akan menjadi pengimbang harga obat yang beredar di Indonesia.
Dari catatan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Singapura merupakan investor terbesar di Indonesia pada 2015. Aliran dana dari Negeri Merlion itu mencapai US$5,9 miliar. Sementara, Malaysia sebesar US$3,1 miliar, Jepang US$2,9 miliar, Belanda sebesar USD1,3 miliar, dan Korea Selatan sebesar US$1,2 miliar.
Singapura memang memegang peranan penting bagi Indonesia. Bahkan, Bank Indonesia mencatat, Negeri Singa ini menempati posisi teratas sebagai negara pemberi utang ke Indonesia. Utang ke Singapura, per November 2015, sebesar US$57,1 miliar atau setara Rp792,5 triliun. Utang Indonesia dari IBRD adalah US$14,2 miliar atau setara Rp197,1 triliun. Posisi kedua dan ketiga masing-masing adalah Jepang US$31,4 miliar dan China US$12,6 miliar. Sementara, dari organisasi, ada ADB sebesar US$8,7 miliar dan IMF US$2,7 miliar.
Kepala BKPM, Franky Sibarani, merespons positif minat investasi yang disampaikan oleh investor dari Singapura tersebut. “Secara nilai mungkin tidak terlalu besar. Namun demikian sektor farmasi merupakan sektor prioritas yang menjadi fokus pemasaran investasi BKPM,” ujar Franky.
Bahkan, pada 2015, Franky menyebutkan, Singapura merupakan salah satu dari lima negara yang menjadi fokus pemasaran BKPM. Pasalnya, Singapura merupakan negara yang paling banyak menanamkan modalnya di Indonesia. Misalnya saja transportasi, pergudangan, telekomunikasi, tanaman pangan dan perkebunan, pertambangan, industri makanan, dan listrik.
Industri Farmasi
Hingga kini, perusahaan farmasi asal Singapura masih mengekspor dan menunjuk distributor lokal di Indonesia sebagai penyalur utamanya. Tentu saja, realiasi investasi Farmasi dari Singapura ditunggu oleh banyak kalangan, dengan harapan bisa menjadi pengimbang harga obat di dalam negeri.
“Namun melihat perkembangan pasar, perusahaan memutuskan untuk melakukan investasi langsung dengan mendirikan industri farmasi di Indonesia,” Kata Franky. Dia menilai, industri farmasi cukup strategis karena dapat mengurangi impor. Dengan demikian, bisa menambah kompetitor produsen obat di Indonesia dan diharapkan bisa menekan harga obat yang tinggi untuk kepentingan masyarakat.
Sementara itu, Pejabat Promosi Investasi Kantor perwakilan BKPM (IIPC) di Singapura, Ricky Kusmayadi, menambahkan, minat investasi ini telah diidentifikasi dan perusahaan telah berkunjung ke kantor IIPC Singapura untuk mendapatkan informasi mengenai tahap-tahap berinvestasi di Indonesia.
Ricky menyatakan, kepercayaan Investor Singapura terhadap Indonesia sebagai basis produksi di ASEAN semakin meningkat di tengah kondisi ekonomi dunia yang belum membaik. “Kami akan terus mengawal minat investasi ini agar dapat terealisasi,” ungkapnya.
Singapura merupakan negara teratas di daftar peringkat negara asal realisasi investasi. Bersama Malaysia, Singapura ditetapkan sebagai negara prioritas pemasaran investasi khusus untuk negara-negara anggota ASEAN. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan realisasi investasi dari ASEAN yang pada tahun 2015 naik 15% menjadi US$9,1 miliar dari sebelumnya US$7,93 miliar.
Sementara itu, dari sisi komitmen investasi, negara-negara anggota ASEAN pada tahun 2015 mencatatkan kenaikan 79% mencapai US$22 miliar dari posisi tahun sebelumnya US$12,3 miliar.
Pada 6−8 April lalu, PT UBM Pameran Niaga Indonesia menyelenggarakan pameran niaga untuk industri farmasi, Convention on Pharmaceutical Ingredients South East Asia (CPhI SEA) 2016 atau lebih dikenal dengan CPhI South East Asia ke-5.
CPhI South East Asia 2016 diikuti lebih 200 perusahaan dari 25 negara, dengan pavilion nasional dan grup dari Korea, Cina, India, serta Mensa Grup. Beberapa peserta baru juga hadir mewakili negara-negara yang belum pernah berpartisipasi sebelumnya, seperti Mesir dan Belarusia.
YOKATTA NEWS Saatnya ……. Anda Beralih