SRIKANDI DARI KOTA PAHLAWAN

Sebagai ketua umum Muslimat NU, dia juga pernah menyelenggarakan Training Of Trainer bersama Badan  nasional  Penanggulangan terorisme dalam pembentukan Forum  Koordinasi  Penanggulangan Terorisme  di  beberapa  propinsi. Antara lain di Jawa Tengah, Lampung, Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan dan Riau.

Maka jangan heran, jika hampir semua daerah yang mengalami konflik  sosial  sudah  dia  datangi. Termasuk  saat  terjadi  konflik  di Ambon,  Sampang,  Aceh,  Ternate, Bitung dan Sambas. Berbagai program multi kultur tetap menjadi bagian dari nafas kehidupannya sebagai warga bangsa yang ber bhinneka tunggal ika.

Tak  hanya  itu,  alumni Unair ini memang rajin keliling ke berbagai daerah tertinggal, terluar dan terpencil untuk mengajarkan  program  kecakapan  hidup. Secara keseluruhan lebih dari  79 kabupaten yang telah di kelilingi untuk  menyemai  program  pemberdayaan  ekonomi  melalui  program kecakapan hidup, hususnya bagi kelompok yang telah selesai mengikuti   program   pemberantasan buta aksara.

Sebagai ketua umum Pimpinan Pusat Muslimat NU, wanita jilbaber sejati  ini  secara  terus  menerus menyerukan  kepada  warga  Muslimat  NU  dan  warga  masyarakat pada umumnya, di berbagai tempat dan kesempatan agar menjaga lingkungan hidup dan terus menanam. Tugas itu dilakukan dalam rangka  menjalankan  komitmen pelaksanaan  Millenium  Development Goals.

Gerakan  menanam  pohon  di lingkungan   jaringan   Muslimat NU  se-Indonesia  telah  mencapai 1.8  juta pohon tahun  2003-2007. Karena itu, tahun  2011, Khofifah mendapat penghargaan dari Menteri Kehutanan atas kontribusinya mengggerakkan  warga  Muslimat NU menanam pohon.

Dalam    hal    pemberdayaan ekonomi perempuan, sejak tahun 1996,  Khofifah  memiliki  komitmen untuk keliling propinsi mengajak  perempuan/  Muslimat  NU agar  segera  membangun  koperasi. Terhitung selama tahun  19961997, ia telah keliling ke 16 propinsi untuk memediasi pembentukan koperasi.

Hasilnya,  tahun 2008,  Muslimat  NU  telah  berhasil  membentuk Induk Koperasi, dan Khofifah sebagai inisiator Koperasi An-Nisa’ mendapatkan  penghargaan  dari Menteri Koperasi dan UKM. Penghargaan dari Kementerian Koperasi dan UKM juga diterima kembali pada tahun 2013.

Dari   segudang   prestasi   itu, kepribadian  Khofifah,  banyak  ditempa  oleh  sosok  guru  agamanya semasa duduk di bangku SMA Khodijah, Surabaya. Sang guru itu bernama Nur Zainab. Dia memanggilnya, Ibu Nur. Khofifah berkisah, Ibu Nur inilah tempat nya berkonsultasi banyak hal. Termasuk dalam hal  urusan politik sekalipun.

Pada  1992 lalu, Khofifah yang merupakan kader Partai Persatuan Pembangunan  (PPP)  ditawari  formulir pendaftaran calon legislator. Tidak  tanggung-tanggung,  ketika itu dia disodori tiga formulir untuk daerah tingkat II, tingkat I dan DPR pusat.

Hingga   mendekati   deadline pendaftaran,  Khofifah  masih  galau. Dia pun mendatangi Ibu Nur dan  bercerita  tentang  kebimbangannya. Sambil bercerita, Khofifah menyampaikan,  jika  dia  mengisi formulir  untuk  tingkat  II,  maka kemungkinan   besar   dia   akan mendapatkan nomor besar dan peluang lolos besar.Tetapi, Khofifah harus  melompati  banyak  senior di partai. Demikian pula jika dia memilih menjadi caleg di tingkat provinsi. “Wilayah  di  mana  saya tidak  punya  kenalan  adalah  di tingkat pusat. Di mata saya, orangorang  yang  akan  dihisab  paling lama di Padang Mahsyar adalah anggota DPR RI. Sebab, dia sudah mau masuk surga, ada lagi orang yang protes, ‘Hai Malaikat, saya ini dulu mencuri karena anak saya lapar. Dulu  dia  tidak  pernah  memperjuangkan hal itu,” papar Khofifah.

Ibu Nur, kata Khofifah, memberikan jawaban     sederhana. “Khofifah,  kamu  niatkan  semua demi ijtihad politik. Itu yang paling saya ingat,” imbuhnya. Anggota DPR RI periode 19921997  menjelaskan, ijtihad memiliki makna bekerja keras. Jika berijtihad,  meski  maksud  seseorang tidak tercapai, maka orang tersebut tetap mendapatkan satu pahala. “Kalau  maksud  kita  tercapai, maka  pahala  kita  dua,”  ujarnya. Yokatta News