Harga Batubara Turun Kinerja PTBA Tetap Kinclong

Melemahnya harga batubara sepanjang 2014 berimbas menurunnya mayoritas kinerja emiten industri batubara. Namu hal berbeda ditorehkan perusahaan tambang batubara milik Negara PT Bukit Asam (persero) Tbk. Perusahaan berkode PTBA dilantai bursa ini justru meraih kenaikan laba bersih 8 yang cukup signifikan.

Dalam RUPST yang berlangsung akhir Maret 2015, PT Bukit Asam (PTBA) bahkan membagikan dividen tunai sebesar Rp 705,7 miliar atau Rp324,60 persaham untuk tahun buku 2014. Direktur Utama PTBA Milawarma menyampaikan, jumlah deviden tunai yang dibagikan itu merupakan 35 persen dari total laba bersih perseroan tahun buku 2014 sebesar Rp 2.02 triliun. Angka ini lebih tinggi 10 persen dibandingkan laba tahun lalu sebesar Rp 1,83 triliun. Pendapatan PTBA sepanjang tahun buku 2104 tercatat sebesar Rp 13,08 triliun atau meningkat sebesar 17 dibandingkan pendapatan 2013. Laba bersih dan perseroan berasal hasil penjualan batubara sebanyak 17,96 juta ton. Yang terdiri dari untuk pasar domestik sebesar 9,50 juta ton atau 52 persen dari total penjualan sisanya 8,66 juta untuk pasar ekspor. Meski index harga batu bara global pada 2014 mengalami penuruna hinggan 24 persen dari tahun sebelumnya namun harga jual tertimbang PTBA mengalami kenaikan sebesar 15 persen menjadi Rp 723.635. Hal ini bisa terjadi karena PTBA melakukan optimasi dalam pemasaran operasional penambangan dengan brand yang sesuai dengan kebutuhan pasar. Hasil tersebut membuat PTBA menjadi peringkat pertama perusahaan tambang batubara nasional dengan net profit sebesar 15,4 persern, gross profit margin sebesar 30,8 persen dan operating profit margin sebesar 17,7 persen.

Volume penjualan PTBA pada 2014 sebesar 17,96 itu merupakan kontribusi dari produksi dan pembelian batubara dari pihak ketiaga sebesar 18,17 juta ton, masing-masing dari produksi unit pertambangan Tanjung Enim sebesar 15,50 juta ton, dari anak perusahaan PT International Primal Coal (IPC) sebesar 0,85 juta ton dan pembelia n batubara dari pihak ketiga oleh PT Bukit Asam Prima sebesar 1,80 juta ton. Pada 2015, PTBA merencanakan penjualan sebesar 24 juta ton atau 33 persen lebih tinggi dari penjualan tahun sebelumnya. Sedangkan untuk valume produksi dan pembelian batubata dari pihak ketiga direncanakan sebesar 23,70 juta ton atau naik 30 persen. Rinciannya, dari unit pertambangan Tanjung Enim 15,88 juta ton, IPC 0,9 juta ton dan pembelian dari PT Bukit Asam Prima sebesar 2,34 ton. Untuk mendukung trasportasi dari lokasi tambang tanjung Enim menuju pelabuhan Tarahan dan Dermaga Kertapati, pada 2015 PT KAI dengan tambahan armada serta peningkatan kapasitas infrastrukturnya sudah menyatakan kesanggupannya untuk mengangkut batubara sebanyak 18,97 juta ton. Sebelumnya KAI hanya bisa mengangkut sebesar 14,85 juta ton.

Di luar PLTU milik sendiri untuk memenuhi kebutuhan internal perusahaan, masing-masing PLTU Tanjung Enim 3×10 Mega Watt di mulut tambang Tanjung Enim dan PLTU Pelabuhan Tarahan 2x 8 MW yang sudah beroperasi , PTBA terus berupaya mengembangkan sayap bisnis ke sector lainnya. Pada 2014 lalu, PTBA telah mendirikan sebuah anak perusahaan baru yakni PTB Bukit Multi Investama(BMI) yang bersipat multi bisnis. Kemudia BMI mengakuisisi dan mendrikan perusahaan yang merupakan perusahan afiliasi bagi PTBA seperti PT Sawindo Permai yang bergerak di bidang perkebunan kelapa sawit dengan luasan lahan sekitar 8.500 hektar. PT Sawindo Permai juga mengembangkan beberap produk turunan seperti bio energy. Selain itu PT Sawindo juga dilengkapai PLTU berbahan bakar limbah sawit serta berbagai sarana infrastruktur perkebunan lainnya. Selain itu BMI juga akan mengakuisisi PT Satria Bahana Sarana,perusahaan yang bergerak di sektor jasa penambangan yang akan beroperasi untuk mendukung PTBA sebagi perusahaan induk. Tak hanya sampai di situ, BMI juga akan membentuk perusahaan PT Bukit Asam Medika yang bergerak di bidang pengelolaan rumah sakit. Pengembangan Usaha Di sektor pembangkit listrik PTBA juga berperan aktif. Bahkan Pembangunan PLTU Banjarsari 2 x 10 MW di mulut tambang beserta infrastrukturnya yang berlokasi di Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan. Saat ini statusnya siap untuk beroperasi komersial hanya tinggal menunggu masuknya jaringan interkoneksi dari PLN Sumatera Bagian Selatan. Jaringan tersebut dijadwalkan terealisasi pada triwulan kedua tahun 2015. Adapun kebutuhan bahan bakar PLTU itu sebesar 1,4 juta ton per tahun akan dipasok oleh PTBA. Terkait dengan peningkatan kapasitas Pelabuhan Tarahan, Bandar Lampung menjadi 25 juta pertahun, PTBA yakin akan terealisasi pada pada triwulan kedua tahun 2015. Peningkatan kapasitas ini Tarahan dilengkapai penambahan satu dermaga (jetty) baru yang berkapasitas 210.000 DWT (Capesize) disamping dermaga lama yang berkapasitas 80.000 DWT (Panamax) serta satu dermaga tongkang dengan kapasitas 10.000 DWT .

Dengan selesainya peningkatan kapasitas pelabuhan dan infarstrukturnya ini, maka keberadaan Pelabuhan Tarahan semakin membuat batubara PTBA makin kompetitif di pasar internasional. Apalagi dengan dukung PLTU milik sendiri, operasional pelabuhan semakin handal. Sementara untuk proyek pembangunan PLTU Banko Tengah dengan kapasiatas 2×620 MW (Sumsel 8) di Mulut Tambang di Tanjung Enim pada 27 Maret lalu, PTBA dan The Export-Import Bank of China (CEXIM) di Beijing telah menandatangani facility loan agreement senilai USD 1,2 miliar. Nilai pinjaman dari Bank CEXIM itu merupakan 75 persen dari nilai proyek sebesar USD 1,6 miliar. Sedangkan sisanya USD 400 juta atau 25 persen dari total nilai proyek merupakan equity anak perusahaan yang mengelola yakni PT Huadian Bukit Asam Power (HBAP). Sesuai dengan kepemilikan saham sekitar USD 180 juta atau 45 persen dari PTBA. Sedangkan mitranya China Huadian Hongkong Ltd sebesar USD 220 juta dengan kepemilikan saham 55 persen. Dalam rancangannya pada semester II 2015 masuk tahap financial closure dan awal tahun 2016 masuk ke tahap konstruksi. Sementara target operasi komersial pada semester 2019. Sedangkan untuk PLTU Peranap 800 MW – 1200 di Indragiri Hulu, Riau dalam tahap review feasibility study sedangkan dan PLTU Inalum 1000 MW -1.200 MW sedang dalam penggarapan. Di sisi lain, dalam upaya untuk meningkatkan nilai tambah cadangan yang ada, sebagian besar batubara berkualitas rendah (4.000 kkal/kg – 4.300 kkal/kg, pada triwulan ke II ini PTBA berharap dapat menyelesaikan perjanjian untuk mengakuisisi teknologi catalic hydro thermal reactor (Cat-HTR) yang dimilki Igenite Energy resoureces (IER) Australia. Cat HTR merupakan teknologi untuk mengolah batubara berkalori rendah menjadi synthetic crude oil/SCO untuk selanjutnya diolah menjadi minyak diesel, avtur, dan gasoline. Teknolgi Cat HTR ini juga menghasilkan produk ikutan berupa batubara berkalori tinggi.

Check Also

Mendagri Minta Daerah Segera Bertindak, Jangan Tunggu Inflasi Makin Dalam

Mendagri Minta Daerah Segera Bertindak, Jangan Tunggu Inflasi Makin Dalam Jakarta – Menteri Dalam Negeri …