Setiap ada kesempatan, aku harus travel, jarak dekat ataupun jauh, sebentar ataupun lama, pokoknya nggak boleh cuma diam-diam saja di rumah. Dengan bepergian saya akan dapat banyak pengalaman baru, dapat lihat dan dengar hal-hal yang baru, merasakan suasana baru, mencicipi makanan lokal alias wisata kuliner and shopping.
Selain itu, jalan-jalan seperti ini, juga merupakan aktivitas yang bagus untuk fisik dan jiwa kita. Meskipun perginya ke tempat yang sudah pernah dikunjungi sebelumnya, akan tetap mendapatkan banyak hal-hal baru. Dan nilai plusnya lagi, setelah pulang dari setiap perjalanan, saya selalu dapat perspektif baru dan rasa fresh lagi, untuk melanjutkan rutinitas sehari-hari. Kali ini liburan lebih dari seminggu tidak boleh dilewatkan, karena tidak dalam liburan lebaran atau natal maupun peak season lainnya, kami memutuskan untuk tidak booking hotel dulu, kecuali malam pertama, kami putuskan untuk berkelana dengan mobil sendiri ke Jawa. Untuk mendapatkan pengalaman baru, kami melalui rute pergi dan pulang dengan melintasi kota-kota yang berbeda, sehingga tidak mengulang pengalaman sebelumnya. Tentu, tidak cukup ruang untuk saya ceritakan semuanya, maka hanya poin-poin dan spot tertentu saja yang dikisahkan di sini.
Jakarta-Bandung
Perjalanan dari Jakarta ke Bandung tidaklah terasa jauh asal tidak macet. Karena sudah beberapa kali ke Bandung tidak lama sebelumnya, maka kali ini hanya sekadar singgah semalam saja dan sempat makan malam dua kali. Pertama, makan sore, dan kedua makan malam.
Bandung-Purwokerto
Perjalanan Bandung menuju Purwokerto inilah yang agak berat. Pasalnya, terasa lama banget di jalan. Secara teori, jauhnya hampir 250 Km. Jika ditempuh dengan kecepatan rata-rata 40 Km per jam saja, sudah membutuhkan waktu lebih dari 6 jam. Itu kalau nonstop lho. Karena kami membawa dua anak kecil, pasti lebih banyak stop-stop-nya. Entah itu ke toilet, isi bensin, makan, atau ngopi supaya tidak ngantuk dan bosan, juga karena karena kami tidurnya malam, check out hotelnya juga siang, sehingga sampai di Purwokerto pun di atas pukul 9 malam. Besoknya kami mengunjungi Baturaden. Sebentar foto-foto pemandangan di sana, dan lanjut jalan-jalan di Kota Purwokerto, dan di setiap kota, kami pasti melewati alun-alun. Setelah merasa cukup, hari itu juga kami lanjut ke Yogyakarta.
Purwokerto-Yogyakarta
Nah, jarak Purwokerto-Yogyakarta sekitar 160 Km, ditempuh selama 4 jam, juga sampai pada malam hari. Sempat menikmati gudeg lesehan (tapi dibungkus karena sudah malam). Besoknya kami mengunjungi desa-desa yang pernah dilahap oleh lava Gunung Merapi di daerah Kaliurang. Untuk pergi jauh ke dalam daerah tersebut, harus dengan kendaraan 4wd, karena banyak jalan off road yang tidak bisa dilalui dengan kendaraan biasa, namun dengan mudah dapat dilakukan dengan booking lava tour di hotel sekitar daerah tersebut. Harusnya kami berangkat pukul 4 pagi untuk melihat sunrise, atau pukul 6 pagi supaya udaranya masih sejuk. Tapi, karena kami tidak mau kurang tidur dan jadi flu, kami tetap berangkat setelah sarapan pagi di hotel. Kami bersyukur karena udara tetap sejuk dan sedikit mendung, meski setiap beberapa menit matahari menyengat tetapi kembali sejuk. Kami melihat banyak ibu-ibu memotong rumput, dan dengan punggung dan bahunya memikul setumpuk besar rumput dan berjalan jauh dan banyak tanjakan juga tetap maju memikul rumput yang berat itu. Sambil membungkukkan badannya untuk mengimbangi tanjakan itu, memandangi hal itu, tangan saya terasa kaku, hingga tidak sempat mengambil foto-foto kejadian tersebut. Saya hanya bisa memandang mereka, dengan pengertian yang dalam tentang kehidupan dan kekaguman pada kegigihan mereka. Di daerah tersebut kami melewati museum kecil dengan berbagai benda-benda sisa peninggalan lava, yaitu botol plastik dan botol kaca, peralatan rumah tangga, lainnya. Benda-benda itu meleleh akibat panasnya material lava yang masuk ke desadesa di kaki Gunung Merapi, tanggal 5 November 2010 lalu. Kemudian kami melanjutkan perjalanan ke daerah bebatuan bongkahan. DI lokasi ini saya bertemu dengan ibu-ibu yang sedang memilih batubatu yang bisa diangkut, dan saya melihat pilihan mereka pada batu-batu berbentuk segi dengan ukuran kurang lebih sama. Kami sempat menyapa mereka yang kebetulan sedang istirahat dan ngobrol di bawah teriknya matahari. Dengan bermodal topi kerucut dan kain yang menutupi wajah, mereka tidak tampak kepanasan, tapi tetap ceria dan tidak keberatan difoto. Ketika hendak difoto, mereka agak malu-malu seraya menutupi wajah dan tertawa. Lagi-lagi saya kagum dengan keberanian dan kegigihan ibu-ibu di sini.

Kaliurang-Dieng
Selepas perjalanan off road di daerah pedesaan kaki Gunung Merapi, kami lanjut ke dataran tinggi Dieng. Perjalanan sekitar 160 Km ini kami tempuh dengan waktu yang jauh lebih lama, karena banyaknya truk besar panjang yang mengangkat kayu gelondongan. Karena medannya banyak tanjakan dan tikungan, sehingga tidak bisa langsung melewati truktruk tersebut. Kami memilih beristrirahat sejenak, selama hampir setengah jam. Di saat istirahat, ternyata kami mendapatkan spot untuk mengambil gambar. Sesudahnya, kami melanjutkan perjalanan dan tiba di atas pukul 9-an. Rehat sejenak di homestay, lalu menyantap mi Ongklok khas Wonosobo. Udara sejuk dingin membuat kami ingin tidur lama dan tidak menikmati sunrise. Namun kami mengunjungi Telaga Warna dan banyak sekali berfoto-foto di sana, sehingga tidak berlama-lama di kawah dan candi. So, ready for my next adventure? See you in next edition. (YK)

YOKATTA NEWS Saatnya ……. Anda Beralih