Transportasi Online Perlu, Tapi Punya Aturan

Keberadaan transportasi berbasis dalam jaringan (online) tidak bisa ditahan karena menyangkut perkembangan teknologi. Namun, transportasi online juga harus mengikuti aturan undang-undang. Transportasi menyangkut nasib pekerjaan rakyat kecil, baik transportasi biasa maupun transportasi online, seperti Go-Jek dan Grab.

Pemerintah yang diwakili oleh Kementerian Perhubungan, Kementerian Komunikasi dan Informatika, serta Kementerian Koordinator bidang Politik, Hukum, dan Keamanan menggelar rapat terakhir dengan pihak Grab, Uber, dan Organisasi Angkutan Darat terkait eksistensi moda transportasi umum berbasis layanan online. “Kesepakatan terakhir kami beri waktu dua bulan, sampai 31 Mei 2016, agar Uber dan Grab bekerja sama dengan transportasi umum yang sah atau mendirikan badan usaha sendiri,” kata Menteri Perhubungan Ignasius Jonan saat ditemui di kantor Kemenkopolhukam, Maret lalu.

GrabCar

GabCar merupakan aplikasi layanan transportasi terpopuler di Asia Tenggara yang menyediakan layanan transportasi untuk menghubungkan lebih dari 10 juta penumpang dan 185.000 pengemudi di seluruh wilayah Asia Tenggara. Aplikasi Grab menawarkan lima pilihan layanan transportasi, mulai dari taksi, mobil pribadi, sepeda motor, hingga pengiriman paket untuk memenuhi kebutuhan penumpang di Singapura, Malaysia, Thailand, Filipina, Vietnam dan Indonesia.

GrabTaxi merupakan layanan taksi premium dengan jaringan terluas di Asia Tenggara. GrabCar adalah layanan transportasi untuk mereka yang memilih kenyamanan berkendara layaknya menggunakan mobil pribadi. Sementara, GrabBike merupakan sebuah alternatif layanan transportasi untuk mereka yang ingin lebih cepat dan aman sampai ke tujuan. Terakhir, GrabExpress adalah layanan pengiriman paket yang cepat, aman dan terpercaya.

                Perusahaan Grab adalah perusahaan yang didirikan oleh Anthony Tan dan Hooi Ling Tan, warga negara Malaysia. Mereka melihat adanya dampak negatif dari tidak efisiennya sistem transportasi yang ada pada saat itu.

Mereka pun kemudian mencetuskan ide untuk membuat aplikasi pemesanan transportasi, khususnya taksi, yang kemudian menobatkan mereka sebagai finalis dalam Kontes Harvard Business School’s 2011 Business Plan. Hasilnya, pada 2012 di Malaysia, aplikasi MyTeksi mulai beroperasi, dan langsung mendapatkan 11.000 download pada peluncuran pertamanya. Dalam rentang waktu yang singkat, aplikasi MyTeksi pun berkembang pesat menjadi aplikasi transportasi yang sangat populer di Asia Tenggara. MyTeksi ini pun kemudian bertransformasi menjadi Grab.

Visi Grab sendiri adalah “menjadi yang terdepan di Asia Tenggara” dengan memecahkan permasalahan transportasi yang ada serta memberikan kemudahan mobilitas pada 620 juta orang di Asia Tenggara setiap harinya.

Untuk mencapai visi tersebut, Grab memiliki tiga misi. Pertama, Membuat platform transportasi yang paling aman. Kedua, membuat semua orang dapat mengakses pelayanan transportasi yang baik. Terakhir, meningkatkan taraf hidup mitra.

GO-JEK

Nadiem Makarim mendirikan GO-JEK, tujuannya adalah membuat layanan transportasi dapat diakses kapan saja, di mana saja, dan memiliki standar harga yang terjangkau untuk setiap wilayah. Ia dengan perusahaan GO-JEKnya percaya bahwa layanan transportasi pintu ke pintu merupakan layanan transportasi yang tepat untuk masyarakat di Asia Tenggara, terlepas dari pendapatan, kebutuhan, usia, dan lokasi. Dalam hal ini, GO-JEK pun selalu siap melayani setiap kalangan.

Nadiem percaya bahwa bisnis yang berkembang tidak hanya menguntungkan satu pihak, akan tetapi menguntungkan pihak lain juga, seperti meningkatkan kesejahteraan orang yang ikut serta dalam perkembangan bisnis ini, seperti penumpang, pengemudi, pemerintah dan masyarakat luas.

GO-JEK merupakan jasa transportasi cepat dan praktis. Jiwa bisnis Nadiem Makarim mengantarkannya mendirikan PT Gojek Indonesia. Penyedia jasa transportasi ojek ini berkembang pesat setelah meluncurkan aplikasi di smartphone pada awal 2015.

Memahami besarnya potensi bisnis di sektor teknologi dan internet di era modern ini, membuat Nadiem Makarim berambisi menjadi pengusaha. Lewat perusahaan besutannya bernama PT Gojek Indonesia, Nadiem menangkap peluang dari besarnya penduduk Indonesia, terutama warga Jakarta yang membutuhkan layanan transportasi yang cepat dan praktis.

                Nadiem lebih suka menyebut PT Gojek Indonesia adalah perusahaan teknologi, bukan perusahaan penyedia jasa ojek. Padahal, Go-jek menawarkan jasa transportasi ojek yang cepat dan praktis. Sejak awal tahun ini, Gojek meluncurkan aplikasi yang bisa diunduh di ponsel bernama GO-JEK. Kelima, dari aplikasi ini, user bisa langsung memesan ojek hanya dengan beberapa langkah mudah. Setelah itu, ojek akan datang menjemput ke tempat konsumen dan mengantarkan ke tempat yang dituju. Selain itu, Go-Jek juga melayani jasa antarbarang dan atau kurir, jasa antarpesan makanan, hingga jasa shopping. “Dari layanan tersebut, yang masih mendominasi pesanan transportasi ojek,” ujar Nadiem.

Setelah aplikasi ini meluncur, layanan GO-JEK berkembang pesat. Nadiem mencatat, sejak awal tahun ini user yang mengunduh aplikasi GO-JEK sudah mencapai 650.000 orang dengan pertumbuhan pengojek mencapai 10.000 orang yang bergabung. Tidak hanya wilayah Jabodetabek, Go-Jek sudah melebarkan sayapnya hingga ke Bali, Bandung, dan Surabaya.

Go-Jek kini bekerja sama dengan hampir 100 perusahaan yang menjadi pelanggan korporat. Pria lulusan Master of Business Administration dari Harvard Business School ini mengajak pengojek yang punya motor sebagai mitra. Warga yang ingin bergabung di GO-JEK harus memiliki kendaraan sendiri. Tiap pengojek akan dibekali smartphone sebagai alat penghubung dengan konsumen dan sistem dengan cara mencicil biaya pembelian smartphone setiap bulan.

Dia menghitung, dalam sebulan, pendapatan tukang ojek bisa mencapai Rp 4 juta hingga Rp6 juta. Sistemnya adalah bagi hasil, yakni 80% dari total penghasilan masuk kantong pengojek dan 20% sisanya untuk perusahaan. Sayangnya, Nadiem enggan mengungkapnya omzet yang didapatkan perusahaan. “Masalah uang, angka, investasi, jumlah order, saya tidak bisa sebutkan,” ujarnya.