Ketika Kaisar Naruhito ‘Menghadap’ Dewa dan Para Leluhur

Pria berusia 59 tahun itu telah secara resmi naik takhta pada Mei 2019 lalu, tetapi prosesi resmi penobatannya baru akan diformalkan setelah ia menyelesaikan serangkaian upacara Sokuirei-Seiden-no-gi.

BEGITU upacara selesai, Perdana Menteri Shinzo Abe berteriak “Banzai!” (“panjang umur Kaisar”) ucapnya sebanyak tiga kali. Ya, Selasa (22/10), Kaisar Jepang Naruhito secara resmi memproklamasikan penobatannya di depan para bangsawan dan pemimpin dari seluruh dunia, melengkapi kenaikannya ke Takhta Krisan.

Upacara yang diberi nama Sokuirei-Seiden-no-gi itu dilakukan sebagian besar dalam keheningan di Istana Kekaisaran di Tokyo. Hanya dengan suara drum dan gong terdengar. Sekitar 2.000 tamu, termasuk para pejabat asing dan bangsawan, berdiri diiringi entakan drum sebelum pengumuman penobatan dimulai.

Sebagaimana dilansir kantor berita AFP, Naruhito mengenakan jubah seremonial didominasi oleh jubah luar berlapis tembaga saat mengumumkan penobatan dirinya; “Dengan ini saya menyatakan penobatan saya di dalam negeri dan luar negeri.”

Sejatinya, Naruhito secara resmi telah menjalankan tugasnya sebagai Kaisar pada 1 Mei lalu, sehari setelah ayahnya menjadi raja Jepang pertama yang turun takhta dalam dua abad terakhir. Namun, transisi tersebut tidak lengkap sampai peran barunya secara resmi diproklamasikan, Selasa akhir Oktober lalu.

Deklarasi penobatan Naruhito dikumandangkan dari Takamikura, yaitu paviliun setinggi 6,5 meter yang beratnya sekitar 8 ton, dengan pedang dan permata yang merupakan dua dari Tiga Harta Karun Suci, ditempatkan di sampingnya. Pedang dan permata kuno itu bersama-sama dengan cermin yang disebut Yata-no-Kagami disimpan di Ise Grand Shrine, situs paling suci dalam agama Shinto Jepang. Pedang dan permata kuno ini membentuk tanda kebesaran yang melambangkan keabsahan kaisar.

Sebelum dianggap sah memangku jabatan itu Kaisar Jepang, Naruhito, juga menjalani upacara ritual agama Shinto. Dia terlebih dulu wajib berdoa di tiga kuil Shinto yang berada di Istana Kekaisaran Jepang.

Naruhito yang berusia 59 tahun memulai prosesi upacara itu sejak pagi hari waktu setempat. Dia mengenakan pakaian tradisional dan berdoa di Kuil Kashikodokoro serta dua petilasan lainnya.

Di Kuil Kashikodokoro, Naruhito harus berdoa kepada Amaterasu atau Dewa Matahari. Dia didampingi sejumlah abdi kaisar yang membawa beberapa pusaka kekaisaran seperti pedang dan permata.

Dalam kegiatan puncak, Naruhito akan mengenakan jubah kekaisaran lengkap dengan mahkota. Lalu pada malam hari nanti, dia bersama sang istri, Permaisuri Masako, akan menggelar jamuan makan malam yang dihadiri para pejabat negara, anggota dewan, dan perwakilan lembaga penegak hukum serta negara asing.

Seharusnya Naruhito dan Masako diarak dalam pawai usai menjalani ritual pengangkatan kekaisaran itu. Namun, hal itu ditunda hingga 10 November mendatang karena saat ini Pemerintah Jepang sedang melakukan proses rehabilitasi selepas diterjang Topan Hagibis.

Check Also

Menko Polkam Ingatkan Sanksi Hukum Atas Tindakan Pengibaran Simbol Pengganti Bendera Merah Putih

Menko Polkam Ingatkan Sanksi Hukum Atas Tindakan Pengibaran Simbol Pengganti Bendera Merah PutihJakarta – Sebentar …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *