Tetap memakai baju adat Bali, Presiden Joko Widodo melakukan kunjungan balasan ke Malaysia. Ini kali kedua Presiden ke-7 ini disupiri langsung sang Perdana Menteri Malaysia Mahathir Muhammad.
SIANG itu, tim keamanan dua kepala negara dibuat kelimpungan. Pasalnya, Presiden Indonesia, Joko Widodo dan Perdana Menteri (PM) Malaysia, Mahathir Mohammad, melakukan perjalanan dalam satu mobil yang sama. Hal ini dinilai dapat membahayakan keamanan kepala negara. Namun, rupanya itu adalah keinginan langsung dari PM Mahathir sebagai bentuk pelayanan dalam agenda lawatan Presiden RI ke Malaysia.
Kunjungan Presiden Jokowi tahun ini sejatinya adalah kunjungan balasan atas kunjungan Mahathir tahun lalu. Mengawali kegiatannya dalam kunjungan kenegaraan ke Malaysia, Presiden Joko Widodo didampingi Ibu Negara Iriana Joko Widodo mengikuti Upacara Penyambutan Resmi Kenegaraan oleh Perdana Menteri Mahathir Mohamad, di Dataran Perdana, Putrajaya, Malaysia, Jumat (9/8) pagi.
Rangkaian upacara dimulai dengan penjemputan Presiden Jokowi dan Ibu Negara Iriana oleh Perdana Menteri dan Ibu Negara Malaysia Siti Hasmah binti Mohamad Ali menuju Dais Kehormatan. Setelah itu, dikumandangkan lagu kebangsaan “Indonesia Raya” diikuti lagu kebangsaan Malaysia “Negaraku”. Kemudian Presiden Joko Widodo dan Tun Mahathir melakukan pemeriksaan dua baris jajar kehormatan didampingi oleh Komandan Pasukan Kehormatan.
Meskipun hanya berlangsung beberapa jam, pertemuan kenegaraan antara dua pemimpin telah membahas beberapa isu penting. Di antaranya adalah isu diskriminasi produk sawit, tenaga kerja, hingga mobil listrik. Beberapa di antaranya sudah mencapai kesepakatan.
Menteri Luar Negeri (Menlu) Retno Marsudi yang turut serta dalam pertemuan mengemukakan beberapa persoalan yang telah dibahas. Isu pertama mengenai warga negara Indonesia di Malaysia yang jumlahnya cukup banyak yaitu lebih dari dua juta orang. Terkait ini, Indonesia memerlukan dukungan dalam pengembangan community learning center (CLC). PM Mahathir Mohammad kemudian menyatakan komitmennya untuk memperhatikan permintaan Indonesia dan akan membantu Indonesia dalam rangka pengadaan CLC.
Fasilitas CLC sangat diperlukan bagi anak-anak dari tenaga kerja Indonesia yang berada di Malaysia, khususnya berada di Semenanjung. “Sejauh ini Indonesia telah memiliki CLC di wilayah Sabah dan Serawak, sementara di wilayah Semenanjung sampai saat ini Indonesia belum memiliki,” kata Menlu kepada wartawan pada (9/8) sore.
Isu kedua yang dibahas oleh kedua pemimpin adalah komitmen untuk terus bersatu melawan diskriminasi terhadap sawit. Seperti diketahui, Malaysia dan Indonesia adalah produsen kelapa sawit yang cukup besar yang kalau digabungkan berarti paling besar di seluruh dunia. Saat ini banyak tantangan yang sedang dihadapi oleh kelapa sawit.
Ditambah lagi, Malaysia merupakan salah satu negara mitra utama Indonesia, terutama di ASEAN. Kalau melihat dari perdagangan, Malaysia juga adalah mitra dagang ke-7 terbesar atau tujuan ekspor ke-6 terbesar bagi Indonesia di antara negara ASEAN.
YOKATTA NEWS Saatnya ……. Anda Beralih