Brand Indonesia Harus Bermutu

Saat ini pertumbuhan sektor ritel cukup pesat. Namun, hal ini harus diimbangi dengan penguatan dan memunculkan brand-brand yang berkualitas. Apalagi saat ini Indonesia harus bersaing dan menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) di tahun 2015. Di tengah serbuan ritel dari luar negeri, mampukah pengusaha ritel dalam negeri bersaing dengan ritel-ritel luar negeri seperti Lotte Mart dan sejenisnya. “Kalau kita sepakat untuk menjadi tuan rumah untuk produk-produk Indonesia, mestinya produsen-produsen pakaian di Indonesia juga mem- buat  brand – brand yang bagus. Jangan hanya sebagai p e m a s o k saja. Kita lihat banyak sekali brand-brand luar negeri, sebenarnya buatan Indonesia,” Stefanus Ridwan. Untuk lebih jelasnya, Gaus Kaisuku dari Majalah Yokatta News mewawancarai Ketua Dewan Pembina Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesian, A Stefanus Ridwan S. Berikut petikannya :

Kita sekarang telah memasuki era Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). Bagaimana persiapan para pengusaha yang bergerak di bidang ritel?

Saya kira dunia ritel kita cukup siap. Pusat-pusat belanja yang ada di Indonesia, tak kalah dengan luar negeri. Jadi Pusat-pusat belanja Indonesia itu, salah satunya itu yang terbaiklah dia Asia. Kalau menurut saya, yang kurang di Indonesia adalah jumlah brandnya, terutama brand-brand Indonesia. Jadi kalau kita sepakat untuk menjadi tuan rumah untuk produkproduk Indonesia, mestinya produsen-produsen pakaian di Indonesia juga membuat brandbrand yang bagus. Jangan hanya sebagai pemasok saja. Kita lihat banyak sekali brand-brand luar negeri, sebenarnya buatan Indonesia. Cuma dipasang label-label luar negeri. Mestinya Indonesia sendiri punya label-label yang khas Indonesia. Sehingga orang tahu, produk ini produk kita. Jika bangsa kita membeli produk-produk brand itu akan membuat industri kita makin kuat. Dan kita gampang dengan ekspornya keluar.

Mengapa brand kita kurang kuat, apa persoalannya?

Kebanyakan orang kita itu industrialis. Dia hanya menghasilkan produk, tetapi tidak pernah bisa memasarkannya. Jadi jarang sekali orang-orang kita mau mengembangkan brandnya sendiri. Mereka sudah menjadi supplier untuk produk-produk brand luar negeri saja sudah senang. Karena bagi mereka adalah bisa laku. Jadi, mestinya mereka juga bisa menciptakan brand-brand yang menunjukan bahwa ini produk dia, ini yang kurang. Contoh saja, kita punya pusat-pusat belanja, kalau kita lihat, banyak sekali brandnya sama. Hanya itu-itu saja brandnya. Kemudian ada restoran, ada Roppan, J Co, itukan brand Indonesia yang sukses. Jadi saya kira kita harus banyak lagi menciptakan brand-brand yang mempunyai kualitas internasional. Dan itu jumlahnya kurang banyak sekarang.

Berarti kita kurang kreatif dalam menciptakan brand-brand baru?

Bukan kurang kreatif, tapi belum mau untuk membayar nilai penciptaan brand itu. Karena brand itu perlu biaya untuk promosi dan lain sebagainya. Jadi hal ini yang kita perlukan. Sebenarnya sekarang ini di makanan banyak. Contohnya Honkang, kesannya ini dari Hongkong, dari China, padahal itu asli dari Indonesia. Kita juga lihat beberapa makanan kecil, seperti Ice Cream, itu juga banyak yang asli brand Indonesia. Sekarang sudah mulai, dimulai dari anak-anak muda. Sementara di pakaian kita masih kurang. Di sepatu ada yang sudah bagus, ada merk Indonesia. Rotelly misalnya, itu juga sukses. Kemudian merkmerk yang lainnya seperti Gosh, Kobaroko juga sukses. Ini kan brand Indonesia sebenarnya.

Parameter kalangan pengusaha ritel dalam menghadapi MEA itu apa?

Parameternya adalah kemampuan kita berjualan diri sama dengan luar negeri. Sebab, kalau ada perbedaan harga yang signifikan, kita pasti kalah. Sekarang kita lihat, brand-brand internasional dengan yang di Indonesia dan di luar negeri. Di Thailand, kita jelasjelas menang karena kita lebih murah daripada Thailand. Dengan Singapura, harganya hampir sama. Sementara dengan Malaysia, kita harus hati-hati. Karena di Malaysia, mereka membebaskan bea masuk, kita di sini memungut bea masuk. Untuk hal ini pemerintah juga harus support. Di sana ada pengembalian pajak-pajak pembeli orang asing. Di Indonesia juga mestinya seperti itu, sehingga turis asing yang berbelanja di Indonesia, menjadi semakin banyak. Sekarang ini kan tidak. Turis asing luar negeri yang berbelanja di Indonesia, jarang sekali. Saya ke Malaysia, bertemu dengan tourism Malaysia. Dia bilang, belanja di Indonesia, itu paling banyak orang Malaysia ke Bandung, ke factory outlet. Tapi factory outlet kan tidak ada merk di sana, cuma jualnya agak murah. Yang paling enak buat kita adalah menjual barang dengan harga mahal. Tapi syaratnya, brandnya harus bagus. Jadi profitnya lebih besar.

Menurut Anda, apakah kita perlu melakukan proteksi dari “serbuan” Lotte Mart dan sejenisnya agar pasar kita tidak tergerus?

Itu tidak perlu. Kalau Anda lihat Lotte Mart, itu 80-90 persen isi barangnya adalah merk Indonesia. Sayur mayurrya Indonesia. Kalau kita lihat di pasar induk, orang mau menurunkan sayur di pasar induk itu susah. Barangnya bisa turun dari truk saja sudah bagus, karena mafianya begitu banyak. Tapi kalau dia datang ke supermarket, Lotte Mart atau ke Carrefour, mereka gampang masuk asal kualitasnya bagus, harga bagus, oke. Jadi kita tidak usah bilang bahwa kita anti Lotte Mart, sebab dia merknya asing. Kalau kita tidak mau semua merk asing, ya bikin dong merk kita sendiri, banyak kok merk kita yang sukses. Sekarang tinggal kualitas. Kualitas kita dinaikkan, dan brandnya didisign sedemikian rupa sehingga bagian promosi dan yang lainnya membuat brand ini terkenal. Ini yang penting. Jadi tidak perlu khawatir. Departemen Store luar negeri juga masuk ke Indonesia. Tapi 80 persen produknya Indonesia. Lotte Mart, barangnya sebahagian besar yang ada di situ produk lokal. Contohnya mentega, kebanyakan dari dalam negeri. Begitu pun minyak goreng dan pasta giginya. Jadi jangan terlalu alergi dengan yang dari luar.

Jadi kita tidak perlu khawatir dengan serbuan produk-produk dari luar negeri?

Iya, tidak perlu khawatir. Yang penting adalah kita dari sekarang sudah latihan bersaing dengan mereka. Buktinya gampang. Anda lihat J Co, produknya hampir sama dengan Crispy Cream kan. Siapa yang menang, J Co atau Crispy Cream. Yang menang itu J Co. J Co dari Indonesia sementara Crispy Cream dari Amerika. Itu untungnya apa, kita lebih kuat dari asing, kalau kita mau mendahulukan bahwa produk itu harus berkualitas. Roppan itu memangnya merk Jepang ? Roppan itu aslinya merk Indonesia. Yang punya merk ini adalah Jhonny Andrean. Jadi secara spesifik, persiapan dalam menghadapi MEA itu apa? Kita harus mempersiapkan brand-brand Indonesia yang bermutu. Jadi makin banyak brand Indonesia, ada persaingan, saya kira tidak ada masalah. Brand orang lain masuk ke sini, brand kita juga masuk ke luar negeri. Contohnya J Co, di luar negeri banyak sekarang. Itu produk Indonesia. Roppan juga sama. Jadi menurut saya, yang paling penting adalah bagaimana kita bisa memperkenalkan merek Indonesia dengan kualitas yang luar biasa. (yn)

Check Also

Menko Polkam Ingatkan Sanksi Hukum Atas Tindakan Pengibaran Simbol Pengganti Bendera Merah Putih

Menko Polkam Ingatkan Sanksi Hukum Atas Tindakan Pengibaran Simbol Pengganti Bendera Merah PutihJakarta – Sebentar …