Demi Perubahan, Popularitas pun Dikesampingkan
Kebijakan Menpora dianggap radikal. Namun dibalik itu semua, tersimpan satu misi dan cita-cita kemajuan yang lebih hakiki.
Pria berkumis tipis itu membolak-balik Majalah YOKATTA News. Halaman per halaman dia perhatikan serius. “Bagus ini, ada profil Ibu Khofifah,” katanya. Sembari terus memerhatikan majalah, Menteri Pemuda dan Olahraga, Imam Nahrawi, bertanya perihal yang bisa dibantu. Seketika, kami pun terlibat obrolan serius tentang bagaimana tata kelola olah raga di negeri ini.
Itulah sekilas suasana kunjungan YOKATTA News ke ruangan Menteri Pemuda dan Olahraga, Selasa 12 Januari lalu. Tak banyak pernyataan yang bernada mengagungkan dirinya. Nahrawi justru banyak merendah dan mengingatkan bahwa tata kelola olahraga erat kaitannya dengan prestasi. “Kesimpulan saya, tanpa tata kelola yang baik, tidak akan ada prestasi yang baik,” ujarnya dengan nada tenang.
Meski tidak populer, sikap Kemenpora dalam merombak tata kelola olahraga di negeri ini bisa dikatakan populis. Bagaimana tidak, ada banyak pihak yang menjadi musuhnya dalam hal perombakan tata kelola persepakbolaan tanah air beberapa waktu lalu. Belakangan, FIFA sebagai induk organisasi sepak bola dunia pun menjadi lawannya.
Sebagai seorang politikus yang sudah matang berpolitik di Senayan, tidak ada masalah bagi Nahrawi jika harus menjelaskan sikap dan semua kebijakannya hingga larut malam pada teman-teman di DPR. “Saya juga siap jika banyak orang mengkritik dan memaki saya,” tambahnya.
Menurut Nahrawi, membenahi tata kelola sepak bola negeri ini memang tidak mudah. Ada banyak benteng-benteng yang harus ditembus. Yang sudah jelas adalah benteng FIFA yang selama ini memang mencoba melindungi sepak bola dari intervensi negara.
Karena itu, Nahrawi sadar betul, jika PR-nya tidak selesai hanya dengan mengurusi Liga sepak bola. Ada banyak cabang-cabang lain yang juga punya permasalahan laten dan tetap menjadi perhatiannya. Bukan berarti mengabaikan cabang olah raga lain. Nahwari bahkan terus-menerus secara rutin bertemu dengan pengurus olahraga lain dan terus memantau apa yang terjadi di bidang-bidang olahraga non-sepak bola.
Boleh jadi, sikap dan keberanian Nahrawi lantaran kekuatan hatinya ingin mengubah nasib persepakbolaan tanah air yang miskin prestasi. Salah satu masalah laten adalah penundaan dan pembayaran gaji pemain yang tidak sesuai, pengaturan skor, dan politisasi pemilihan pemain. Karena itu, dia menegaskan bahwa klub yang tidak layak mengikuti liga adalah klub yang sudah memenuhi syarat financial yang mumpuni. Tanpa hal itu, lebih baik tidak usah melaksanakan satu liga yang pengelolaannya berantakan.
Itulah sekilas gambaran kepribadian Nahrawi semenjak menjabat Menpora. Dia tak peduli cemoohan dan cacian. Meski ditentang banyak kalangan, terutama pencinta sepak bola di negeri ini.
Bagi yang tidak tahu banyak mengenai kepribadiannya, Politikus Partai Kebangkitan Bangsa ini mungkin dilabeli sebagai orang yang arogan. Namun, yang sebenarnya tidaklah begitu, jika memerhatikan cara bicaranya yang sopan lagi santun. Beberapa waktu lalu, ketika Imam Nahrawi mengunjungi Pemusatan Pengembangan Kepemimpinan Pemuda (Youth Leadership) 2015 di Gedung PP PPON Cibubur, dia tak ragu untuk membagikan kisah pilu masa kecilnya yang berjuang untuk meraih kesuksesan.
Nahrawi bercerita, jika perjalanan hidupnya tidaklah mudah. Sejak kecil, dia sudah membantu kedua orang tuanya berdagang. Bahkan, ia sempat menjadi kuli pencari batu di sungai. Begitu menapaki bangku kuliah di IAIN Sunan Ampel, Surabaya, Nahrawi harus berjualan kaligrafi di kampus demi membiayai uang kuliah dan kebutuhannya.
Sejak hijrah ke Jakarta, Menpora menuturkan bahwa dirinya banyak mendapatkan pelajaran dan pengalaman berharga dari rekannya, Muhaimin Iskandar. “Itu berlanjut sampai saya menjadi anggota DPR RI selama dua periode hingga sekarang dipercaya Presiden Jokowi sebagai Menpora di Kabinet Kerja saat ini,” tutur Menpora.
Karena itu, di hadapan ratusan pengurus badan kemahasiswaan dia tidak ragu-ragu menyampaikan agar para pemuda Indonesia mampu menjadi inspirator dalam segala hal. “Jadilah inspirasi yang bermanfaat bagi orang lain,” ujarnya.
Box :
“Lebih Dulu Meminta Restu Ibu”
Sebagai menteri pemuda dan olahraga periode 2014–2019, Imam Nahrawi ditantang sebuah hajatan yang tak ditemui empat menteri pemuda dan olahraga sebelumnya. Pada 2018 Indonesia bakal menjadi tuan rumah Asian Games XVIII di samping multi-ajang rutin, seperti Olimpiade 2016 di Rio de Janeiro dan SEA Games di Singapura tahun depan.
Jika menilik pengalaman organisasinya, Imam justru tak memiliki latar belakang olahraga. Pria yang lahir dan besar di Bangkalan, Jawa Timur itu aktif di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Jawa Timur 1997 dan Ketua Umum DKN Garda Bangsa pada 2002. Mulai 1999, Imam menjadi anggota DPR RI dan awet hingga tiga periode berikutnya.
Sebagai anggota DPR yang dimulai periode 2014 ini dia pun tak mengisi komisi X, tetapi komisi V yang mengurusi perhubungan, PU, perumahan rakyat, dan pembangunan desa, serta iklim. Imam juga tercatat sebagai Sekretaris Jenderal PKB. Imam menyadari tugas berat yang menunggunya lima tahun ke depan.
“Ini pekerjaan yang berat. Izinkan saya menelepon ibu saya dulu untuk minta restu. Saya juga mau bermuhasabah dan berpikir dalam,” kata Imam kepada wartawan usai pengumuman kemarin.
Baginya, Surat ancaman FIFA tersebut sangat melecehkan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Mirip tingkah penjajah Belanda dengan VOC-nya tempo dulu.
Nahrawi tampaknya merasakan pelecehan tersebut sangat melukai rakyat Indonesia. Karena itu, dengan tegas, dia membekukan Persatuan Sepak Bola Indonesia (PSSI) melalui surat keputusan Menpora Nomor 0137 Tahun 2015, Sabtu, 18, April 2015.
Suami dari Shobibah Rohmah dan ayah tujuh orang anak ini mengecap pendidikan dasar (SD Bandung), Konang, Bangkalan, pada 1979–1985. Kemudian, dia melanjutkan studi ke SMP Konang, Bangkalan, di 1985–1988 dan Madrasah Aliyah Negeri Bangkalan, pada 1988–1991. Dia pun kemudian melanjutkan kuliah di Fakulltas Tarbiyah, Jurusan Pendidikan Bahasa Arab, Universitas Islam Negeri Sunan Ampel, Surabaya, pada 1991–1998.
Sejak menjadi mahasiswa, Imam Nahrawi sudah aktif dalam organisasi Pergerakan Mahasiswa Indonesia (PMII). Dia, saat itu, menjadi Ketua PMII Rayon Tarbiyah UIN Sunan Ampel Surabaya, pada 1991–1992; Wakil Ketua PMII Komisariat UIN Sunan Ampel Surabaya, pada 1992–1993; Ketua Umum PMII Cabang Surabaya, pada 1995–1996; dan Ketua Umum PMII Koordinator Cabang Jawa Timur, pada 1997–1998.
Setelah selesai kuliah, dia aktif di Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Jabatannya diawali sebagai Ketua Divisi Pemuda Dewan Pengurus Wilayah (DPW) PKB Jawa Timur, pada 1999–2004. Dia Juga merangkap sebagai Wakil Sekjen Dewan Koordinasi Nasional (DKN) Garda Bangsa, 2000–2005 (underbouw PKB) dan Ketua Dewan Koordinasi Wilayah (DKW) Garda Bangsa Jawa Timur, 2002–2007; hingga Ketua Umum Dewan Koordinasi Nasional (DKN) Garda Bangsa, 2004 – 2008.
Sebelum terpilih menjadi Anggota DPR, Imam Nahrawi sempat menjadi wiraswasta sebagai Direktur Intervensi Surabaya dan Direktur CV Alhidayah Surabaya. Lalu, ia juga sempat menjabat Staf Khusus Wakil Ketua DPR RI, sampai 2000. Dalam empat kali Pemilu sejak era reformasi, Imam Nahrawi selalu terpilih menjadi Anggota Dewan Perwakilan Rakyat RI Fraksi PKB, yakni pada periode 1999–2004; 2004–2009; 2009–2014; dan 2014–2019. Namun, setelah diangkat sebagai Menteri Pemuda dan Olahraga Indonesia, Kabinet Kerja, 2014–2019, dia mengundurkan diri dari Anggota DPR dan Sekjen PKB.
YOKATTA Tim
YOKATTA NEWS Saatnya ……. Anda Beralih