Membangun Anak Bangsa
Mengenakan baju koko, serebetan kain sarung, dan berselempang sorban di pundak, DR H Hamzah Haz MA PhD,terlihat begitu rileks ketika ditemui YOKATTA News di ruang tamu rumahnya di bilangan Patra Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu sore, 18 Maret 2015. Di sela ingin menunaikan ibadah shalat Maghrib, Wakil Presiden Republik Indonesia kesembilan ini menyilahkan waktu untuk sesi wawancara. Indonesia sebenarnya negara kaya, Indonesia memiliki sumber daya alam yang besar, dan jumlah penduduk yang banyak, berada di urutan nomor empat dunia,” kata Hamzah Haz spontan ketika dimulai wawancara. Ironisnya, kata pria kelahiran Ketapang, Kalimantan Barat, 15 Februari 1940, ini Indonesia masih menjadi negara berkem- bang, dan masyarakatnya masih miskin. Apa pasal? Menurut Hamzah Haz, karena, dulu, Pemerintah Indonesia salah dalam meletakkan dasar pembangunan. Ketika itu, Pemerintah Indonesia menitikberatkan pada sektor ekonomi, namun tidak dibarengi dengan pemberdayaan sumber daya manusia (SDM). “Salah satunya, pendidikan tidak dijadikan prioritas dasar pembangunan. Akibatnya, SDM kita tidak bisa mengelola sumber daya alam yang ada di Indonesia,” imbuh Hamzah Haz.Walaupun tak lagi menduduki jabatan penting, baik di legislatif maupun eksekutif, Hamzah Haz tetap kritis dalam menyikapi pelbagai persoalan di negeri ini. Lebih-lebih persoalan mengenai nasib anak bangsa, ia masih mau menyuarakannya. Maklum, Hamzah Haz adalah salah satu politikus kawakan Indonesia. Karirnya dalam bidang politik sudah dirintis ketika ia masih sangat muda.
Sejak SMP, Hamzah Haz sudah aktif berorganisasi. Setamat Sekolah Menengah Ekonomi Atas (SMEA) di Pontianak pada 1961, ia menjadi wartawan Surat Kabar Pontianak, Bebas. Karir jurnalistik hanya sempat dijalaninya selama setahun. Sebab, tahun berikutnya ia ikut ayahnya, anggota Koperasi Kopra yang mendapat tugas belajar di Akademi Koperasi Negara Yogyakarta. Karena giat berorganisasi sejak SMP, di kampusnya itu pun ia mendirikan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia, dan terpilih menjadi ketua. Pada 1965, Hamzah Haz kembali ke Pontianak dan bergelar sarjana muda. Selanjutnya, ia meneruskan kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Tanjungpura dan mengambil Jurusan Ilmu Perusahaan. Di Universitas tempatnya belajar, Hamzah
menjadi dosen pada akhirnya.
YOKATTA NEWS Saatnya ……. Anda Beralih
