Indonesia Urutan ke-4 Produsen Kopi Dunia

Ekspor kopi Indonesia terus meningkat. Pemerintah mendorong lewat berebagai pameran di Eropa dan Amerika.

Pemerintah dengan berbagai upaya terus-menerus mempromosikan produk kopi Indonesia. Salah satunya melalui pameran internasional World of Coffee (WOC) di Royal Dublin Society (RDS), Irlandia, Juni kemarin. Upaya tersebut sekaligus memperluas pasar ekspor produk kopi Indonesia terutama ke negara-negara Eropa.

            Direktur Industri Minuman, Hasil Tembakau, dan Bahan Penyegar Kemenperin, Willem Petrus Riwu, mengatakan bahwa kehadiran Indonesia dalam pameran tersebut merupakan upaya memperkenalkan produk kopi spesial Indonesia dan upaya diversifikasi produk kopi Indonesia kepada dunia, khususnya komunitas Uni Eropa.

            Kegiatan promosi ini atas kerja sama Kementerian Perindustrian dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di London, KBRI di Brussel, Gabungan Eksportir Kopi Indonesia (GAEKI), Asosiasi Eksportir dan Industri Kopi Indonesia (AEKI), serta Asosiasi Kopi Spesial Indonesia (AKSI).

            Dalam pameran, Indonesia menampilkan 20 sampel biji kopi spesial dari berbagai daerah di Indonesia yang telah lolos uji cupping. Ada juga penampilan budaya minum kopi tarik Aceh dan minum daun kopi (Kopi Kahwa) Sumatera Barat, serta menampilkan diversifikasi produk olahan kopi dari 15 industri pengolahan kopi di Indonesia.

            Riwu menegaskan, pameran ini menjadi wahana pendorong bagi para pengusaha kopi Indonesia untuk memperkenalkan produk, kualitas, dan citra merek. Tidak hanya itu, pameran ini juga dimaksudkan bagi pengusaha untuk memperoleh berbagai masukan atau keinginan dari pelanggannya di luar negeri.

            Pada 2015, Indonesia mampu mengekspor kopi ke Eropa sebanyak 180 ribu ton. Diharapkan, melalui keikutsertaan pada ajang internasional yang diselenggarakan pada tanggal 23−25 Juni itu dapat lebih mendongkrak nilai ekspor kopi Indonesia ke depannya.

            Menteri Perindustrian, Saleh Husin, mengatakan, pihaknya terus mendorong pengembangan industri perkopian di dalam negeri dari hulu sampai hilir sehingga meningkatkan nilai tambah dan daya saing kopi Indonesia di pasar internasional.

            Sementara itu, beberapa kopi khas daerah yang ditampilkan pada ajang WOC , di antaranya untuk kopi arabika berasal dari Kerinci, Jambi, Temanggung, Jawa Tengah, Toraja, Sulawesi Selatan, Manglayang, Jawa Barat, dan Solok, Sumatera Barat. Sementara, untuk kopi robusta, di antaranya berasal dari Bengkulu, Flores Manggarai, Nusa Tenggara Timur, dan Pupuan, Bali.

            Salah satu importir dari negeri ginseng Korea, Sun Woo (New Media Corp), menggunakan merek Arabica Coffee Mandheling di negaranya. Perusahaan ini membuat kontrak dagang dengan PT. Santama Arta Nami dari Medan, Sumatera Utara, untuk pembelian Kopi Arabika Mandailing sebesar US$1 juta. Transaksi pembelian Kopi Arabika Mandailing oleh Sun Woo adalah dalam bentuk biji atau gongseng (green bean/roasted coffee).

            Kopi Indonesia memang sangat diminati di mancanegara. Menurut International Coffee Organization (ICO), Indonesia menduduki urutan ke-4 sebagai produsen kopi terbesar di dunia pada 2014 dengan perkiraan produksi mencapai 622 ribu metrik ton per tahun.

            Nilai ekspor kopi Indonesia ke Korea Selatan pada 2015 mencapai 10,81 juta dollar AS atau meningkat 44,65% dibandingkan pada 2014 yang bernilai 7,47 juta dollar AS. Ekspor Indonesia ke Korea Selatan didominasi oleh coffee, not roasted, not decaffeinated (HS 090111) sebesar 97,24% dan coffee, roasted, not decaffeinated (HS 090121) sebesar 2,28%.

            Sementara itu, nilai ekspor kopi Indonesia ke dunia pada 2015 tercatat US$1,19 miliar atau meningkat 15,21% jika dibanding periode yang sama pada 2014. Dari nilai tersebut, Korea Selatan merupakan negara tujuan ekspor kopi Indonesia ke-22 dengan nilai 10,81 juta dollar AS (pangsa pasar 0,90%).

            April 2016, Indonesia juga dipercaya sebagai 2016 Official Portrait Country pada pameran Specialty Coffee Association of America (SCAA) yang akan berlangsung di Atlanta, Georgia, Amerika Serikat.

            Sebagai portrait country di pameran SCAA 2016, kopi Indonesia akan menjadi sorotan utama dari lebih dari 12 ribu pengunjung. Pameran SCAA adalah momen yang sangat tepat untuk memantapkan branding kopi Indonesia karena pameran ini adalah yang terbesar di AS, bahkan di dunia.

            Tahun ini, rencananya kegiatan promosi kopi, khususnya di wilayah Amerika, akan lebih digencarkan sehingga kopi Indonesia mendapat tempat yang baik di tengah komunitas kopi di AS maupun di dunia. Berdasarkan data yang dilansir UN Comtrade, pada 2014, AS mengimpor kopi dari dunia sebesar US$5,88 miliar atau setara 18,9% dari total impor dunia. Nilai tersebut meningkat 10,48% dibanding tahun sebelumnya.

            Nilai impor kopi AS dari Indonesia pada 2014 mencapai 323,22 juta dollar AS atau mengalami peningkatan 11,33% dibandingkan pada 2013. Ekspor Indonesia ke AS didominasi oleh kopi biji tidak digongseng tidak dihilangkan kafeinnya sebesar 99,97% (HS 090111 coffee, not roasted, not decaffeinated). Saat ini pangsa pasar kopi Indonesia di pasar AS sebesar 5,5% atau urutan ke-6 di bawah Brasil, Kolombia, Vietnam, Kanada, dan Guatemala.

            Meningkatkan ekspor Indonesia ke luar negeri memang tidak semudah membalikkan tangan. Perlu kerja keras, terutama pengembangan kualitas kopi Indonesia.

            Wakil Presiden Jusuf Kalla dalam rapat pengembangan kopi nasional di Lampung, memaparkan, produksi kopi Indonesia dalam lima tahun terakhir masih stagnan. Bahkan, sebut Kalla, produksi tersebut baru separuh Vietnam, dan jauh dari Brasil yang menghasilkan 2,9 juta ton kopi pada 2015.

            Saat ini, produksi kopi nasional ada di kisaran 600.000 ton per tahun. Menurut Kalla, mendongkrak produksi kopi Indonesia butuh usaha dan pembenahan dari hulu ke hilir yang melibatkan kerja sama antara pemerintah dan petani. Lambat laun, kesadaran soal perlunya peningkatan kualitas dan produktivitas kopi juga sudah muncul dari petani.

            Berdasarkan data Kementerian Perindustrian, kopi adalah komoditas non-migas yang menjadi penyumbang keempat terbesar devisa, setelah kelapa sawit, karet, dan kakao. Pada 2014, misalnya, devisa yang dihasilkan kopi tercatat 1,4 miliar dollar AS.

            Merujuk data yang sama, luasan lahan kopi di Indonesia hingga akhir 2014 mencapai 1,24 juta hektare. Rinciannya, 933.000 hektare kebun kopi robusta dan 370.000 hektare kopi arabika. Rata-rata petani kopi, menurut data itu, memiliki 0,6 hektare kebun. Setiap hektare kebun kopi robusta menghasilkan 741 kilogram biji kopi per tahun. Adapun kebun kopi arabika menghasilkan 808 ton biji kopi per hektare per tahun.

            Sejumlah usaha pun dilakukan pemerintah untuk mendongkrak produktivitas dan kualitas kopi Indonesia. Program kredit usaha rakyat (KUR), misalnya, mengalokasikan Rp5,6  triliun untuk itu, dengan Rp4,4 triliun menyasar intensifikasi. Dana selebihnya dari kucuran KUR itu, sebut Menteri Pertanian. Amran Sulaiman, dipakai untuk penanaman kembali.

            “Kami akan mempercepat intensifikasi lahan kopi 100.000 hektar sampai akhir tahun,” kata Amran.

Check Also

Menko Polkam Ingatkan Sanksi Hukum Atas Tindakan Pengibaran Simbol Pengganti Bendera Merah Putih

Menko Polkam Ingatkan Sanksi Hukum Atas Tindakan Pengibaran Simbol Pengganti Bendera Merah PutihJakarta – Sebentar …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *