Pemerintah berencana merevitalisai 5000 pasar tradisional di Indonesia. Revitalisasi yang dijanjikan tak hanya bangun fisik semata, tapi dikaji secara menyeluruh. Tujuan, target dan manajemen pasar yang selama ini belum dikelola dengan baik menjadi sasaran revitalisasi.
Di mata masyarakat luas, pasar tradisional memilki stigma yang kurang baik. Kebanyakan pasar tradisional terkesan kumuh, kotor bau, becek, dan sebagainya. Namun demikian, di beberapa tempat, pasar tradisional masih memilki pengunjung atau pembeli setia. Meski tak sedikit juga pasar tradisional semakin sepi karena ditinggal pembeli yang beralih ke pasar modern.Stigma negatif ini yang secara umum dilatarbelakangi oleh perilaku dari pedagang pasar, pengunjung atau pembeli dan pengelola pasar itu sendiri. Hal ini tentu saja bisa diperbaiki, meski membutuhkan waktu yang cukup lama. Pengelola pasar menjadi kunci perbaikan perilaku ini.
Berpindahnya pembeli dari pasar tradisional ke tempat lain seperti pedagang kaki lima maupun asongan tidak terlepas dari stigma negatif tersebut. Bahkan masyarakat menengah ke bawah pun cenderung beralih ke pasar modern, seperti pasar swalayan (supermarket dan minimarket) yang biasanya lebih mementingkan kebersihan dan kenyamanan sebagai dasar pertimbangan beralihnya tempat berbelanja.
Seringkali dikesankan bahwa perilaku pedagang yang menjadi penyebab utama terjadinya kondisi di kebanyakan pasar tradisional memiliki stigma buruk. Sebaliknya, di lapangan dijumpai peran pengelola pasar terutama dari kalangan aparatur pemerintah dalam mengupayakan perbaikan perilaku pedagang pasar tradisional masih sangat terbatas. Banyak penyebab yang melatarbelakangi kondisi ini. Dimulai dari keterbatasan jumlah tenaga dan kemampuan (kompetensi) individu tenaga pengelola pengelola serta keterbatasan kelembagaan (organisasi) pengelola pasar untuk melakukan pengelolaan pasar dan pembinaan pedagang.
Terkait dengan hal ini, pemerintah melalui Kementerian Perdagangan akan merevitalisai 5000 pasar tradisional di Indonesia. Menteri perdagangan Rahmat Gobel menegaskan, program ini akan dikaji secara menyeluruh. Tak asal jadi saja tanpa memikirkan tujuan, target dan manajemen pasar yang selama ini belum dikelola dengan baik.
“Presiden Jokowi concern sekali ekonomi kerakyatan dan akan membangun 5.000 pasar yang dibangun. Ini bukan hanya merapihkan pasar-pasar, saya enggak mau asal dibangun,” kata Rachmat dalam diskusi di Jakarta beberapa waktu lalu.
Menurut Mendag, konsep membangun 5000 pasar tradisional wujud pemerintah konsisten melaksanakan Program Nawacita yang didengung-dengungkan Presiden Joko Widodo atau Jokowi. Program ini berawal dari diskusi dirinya dengan pejabat eselon I di lingkungan Kemendag.
“Kebetulan kemarin APBN Perubahan 2015 sudah cair. Kemarin saya diskusi dengan para pejabat eselon I, saya tanya pasar yang di sini apa goalnya? Adakah peningkatan ekonomi jangan sampai tidak ada pedagang dan pembelinya,” singgungnya.
Rachmat menceritakan, dirinya beberapa waktu lalu berkunjung ke Pasar Sukowati di Bali. Di sana ditemukan adanya kesalahan dalam mengelola pasar, akibatnya penjualan di pasar itu menurun.
Dari penelusurannya, diketahui banyak barang produksi yang tak diantar para sopir ke Pasar Sukowati karena mereka lebih memilih ke pasar modern. Kata Rachmat, para sopir tersebut beralasan lebih senang mengantar barang ke pasar modern karena mendapat upah yang besar.
Nah melihat kasus itu, kata Rahmat, harus diakui ada masalah dalam manajemen. Manajemen di pasar tradional masih buruk. Karena itu pembangunan 5000 pasar itu tidak cuma fisik, tapi manajemen dan added value-nya juga harus bangun.
Rencana revitalisasi pasar tradisional ini didukung banyak pihak. Salah satunya adalah Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD), Irman Gusman.
Menurut Irman sudah saatnya pemerintah mengeluarkan kebijakan yang berpihak pada rakyat khususnya kalangan menengah ke bawah. Sebab menurutnya, Joko Widodo dan Jusuf Kalla dipilih menjadi presiden dan wakil karena didukung oleh masyarakat yang taraf ekonominya menengah ke bawah.
“Pemilih Jokowi-JK itu 70 persen segmen menengah ke bawah, tapi kebijakan sudah delapan bulan, (hasilnya) masih belum terlihat. Besok rencananya juga akan ada rapat konstultasi di DPD tentang sejauh mana pemerintah berkomitmen,” kata Irman, dalam diskusi di Kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Minggu 17 Minggu 2015.
Irman menceritakan era orde baru, di mana ekonomi Indonesia hanya dikuasai oleh segelintir konglomerat yang bekerjasama dengan pemerintahan otoriter. “Maka ketika dihantam, begitu rapuhnya ekonomi bangsa, kolaps, karena hanya membiayai segelintir konglomerat,” ujarnya.
Senator asal Sumatera Barat itu melanjutkan sejarah bangsa Indonesia memperlihatkan kegiatan pasar tradisional tetap bertahan di tengah serangan krisis moneter pada 1998 silam. Namun, kebijakan pemerintah belum berpihak kepada pedagang tradisional.
Lebih jauh, dia menyambut baik program pemerintah yang akan melakukan revitalisasi terhadap 5000 pasar tradisional. Sebab hal itu akan memberi pengaruh positif bagi kemajuan Indonesia.
Pedagang kecil ini punya kontribusi besar, urutannya nomor dua setelah pertanian. Nah kita belum lihat betul bagaimana langkah-langkah pemerintah untuk kelas ini, apalagi setelah kenaikan BBM. Namun yang jelas, rencanana pemerintah yang akan merivitalisasi 5000 pasar tradisional harus kita dukung. Apalagi revitalisasi ini tidak hanya fisik saja, akan tetapi juga system pengolalaannya. Jika pasar tradisional dikelola dengan baik, tak hanya pedagang yang diuntungkan. Pemerintah, khususnya pemda akan mendapat tambahan dana dari PAD yang akan semakin besar.
Keberhasilan program ini tentu membutuhkan dukungan semua pihak, utamanya dari pengelola pasar dan pedagang itu sendiri. Jika pasar tradisional tertata rapi, jauh dari kesan kumuh, tentu pembeli kembali akan kembali berbondong-bondoang mendatangi dan meramaikan pasar. Namun jika tidak, keberadaan pasar tradisional mungkin akan tinggal cerita, digerus zaman atas nama modereniasasi. (Amri)
YOKATTA NEWS Saatnya ……. Anda Beralih