Yogyakarta
Warisan Sejarah Indonesia
Memang tidak ada yang bisa menyangkal bahwa berlibur ke luar negeri sangatlah membahagiakan. Meskipun, pergi traveling ke luar negeri pasti membawa koper terkunci rapi dengan bawaan yang lebih banyak dan lengkap. Apalagi, barang-barang pribadi yang kita butuhkan belum tentu dapat dibeli di negara asing. Selain itu, Paspor yang harus selalu dibawa kemana-mana, check-in bagasi di Airport, berjam-jam di pesawat terbang tentunya akan sangat merepotkan. Namun, semua usaha itu terbayar sudah ketika kita sampai di tempat tujuan dan menikmati keindahan wisata di sana.
Akan tetapi, jika kita mau mencoba hal baru tanpa harus bepergian ke luar negeri, seperti bepergian dengan berkendaraan mobil pribadi atau sewaan dengan tidak terlalu was-was akan barang-barang kita sudah terbawa semua atau masih ada yang ketinggalan. Ataupun, dengan membawa barang lebih bebas sekehendak kita, misalnya sepeda, scooter, bantal tambahan, selimut ekstra, berbagai cemilan dll. Juga, berpakaian casual berbahan lemas dan nyaman di badan, dan bisa berhenti di tengah jalan kapan saja kita suka, baik itu untuk mampir di restauran atau untuk berfoto tentunya juga ada kenikmatan tersendiri yang tidak kalah dengan jalan-jalan keluar negeri. Apalagi, bagi mereka yang berwisata dengan membawa anak-anak kecil, akan terasa jauh lebih sederhana dan rileks bepergian dengan mobil pribadi. Tentunya, jika itu adalah travelling berhari-hari atau bahkan seminggu.
Kami memperoleh kesempatan untuk berwisata dari Jakarta ke Jogja dengan menggunakan kendaraan roda empat. Tentunya, perjalanan tidak langsung dilakukan dalam waktu satu hari. Kami sempat singgah di kota lain sebelum akhirnya sampai ke Jogja.
Setelah check-in hotel dan beristirahat yang cukup, kami langsung pergi melewati alun-alun di Yogjakarta sambil mencari makan. Banyak sekali jenis makanan lokal yang bisa kami coba di sini, seperti nasi gudeg khas Jogja. Salah satu tempat yang harus dikunjungi di Yogjakarta apalagi kalau bukan Malioboro, di mana siang hari begitu banyak toko toko yang ramai dan padat pengunjung. Di sini, kita bisa berbelanja beragam aksesori, pakaian, sepatu, tas, batik, kerajinan tangan, souvenir dan lain-lain. Terlebih lagi, pada malam hari, di Malioboro akan ada banyak tempat makan lesehan di pinggir jalan. Tempat ini tentu jadi favorit kami untuk wisata kuliner di Jogja karena banyak sekali makanan yang dapat kami cicipi.
Keesokan harinya, kami berkunjung ke daerah Keraton dan masuk ke dalamnya untuk melihat sebuah bangunan bersejarah, yakni KeratonYogyakarta. Keraton ini dahulu menjadi tempat tinggal bagi Sultan dan keluarganya. Di sana, kami bisa melihat arsitektur kesultanan kuno, juga berkunjung ke museum yang mempunyai koleksi barang-barang Kesultanan Yogyakarta yang sebagian merupakan hadiah dari raja-raja Eropa.
Kami juga menyempatkan diri untuk mampir di beberapa mal di sana, sekalian berkeliling kota Jogjakarta. Masih banyak lagi tempat wisata yang tersedia di Yogyakarta, baik itu Candi Prambanan, Candi Borobudur, Pantai Parangtritis, atau Gua Jomblang. Kami juga tertarik untuk melakukan Merapi Lava Off Road Trip dengan mobil Jeep 4wd di Kaliurang. Kami dapat melihat banyak lahan-lahan peninggalan letusan lava gunung Merapi pada th 2010 yang lalu. juga banyak batu-batu besar dengan lubang-lubang di jalan yang masih mengeluarkan hawa panas dari bawah bumi. Jalanan yang berbatu, penuh tanjakan dan lekukan-lekukan, mengantar kami kepada petualangan unik dan seru. Kami sangat menikmati kunjungan wisata ke Jogja, terlebih lagi banyak sekali pilihan hotel yang indah, nyaman, dan berkualitas.
Tak sabar menanti lain kesempatan untuk wisata di negeri tercinta Indonesia, Happy Voyage!!
YHN
Kata “Istimewa” dalam Daerah Istimewa Yogyakarta bukanlah sekedar nama dan kata, kata istimewa akan lebih terasa maknanya ketika kita memiliki kesempatan bertamasya kesana. Dalam jarak lokasi yang cukup berdekatan, kita akan dimanjakan dengan begitu banyak warisan budaya yang penuh nilai sejarah, mulai dari wisata kuliner di daerah malioboro, belanja kerajinan batik dan kerajinan daerah, berkeliling di daerah Keraton sampai menjauh ke daerah Candi Borobudur. Saya mengawali perjalanan dengan menggunakan “becak” alat tranportasi tradisional, untuk mengunjungi Taman Sari Keraton Yogyakarta ,Tamansari Ngayogyakarta yang adalah situs bekas taman atau kebun istana Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, yang dapat dibandingkan dengan Kebun Raya Bogor sebagai kebun Istana Bogor. Kebun ini dibangun pada zaman Sultan Hamengku Buwono I (HB I) pada tahun 1758-1765/9. Awalnya, taman yang mendapat sebutan “The Fragrant Garden” ini memiliki luas lebih dari 10 hektare dengan sekitar 57 bangunan baik berupa gedung, kolam pemandian. Walaupun secara resmi sebagai kebun kerajaan, namun bebrapa bangunan yang ada mengindikasikan Taman Sari berfungsi sebagai benteng pertahanan terakhir jika istana diserang oleh musuh. Lalu saya masuk ke dalam
Lalu yang sangat saya rekomendasikan dan menambah bangga perjalanan saya adalah menyaksikan kekayaan budaya Indonesia dengan berkunjung ke Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat atau Keraton Yogyakarta yang merupakan istana resmi Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat yang kini berlokasi di Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta, Indonesia. Walaupun kesultanan tersebut secara resmi telah menjadi bagian Republik Indonesia pada tahun 1950, kompleks bangunan keraton ini masih berfungsi sebagai tempat tinggal sultan dan rumah tangga istananya yang masih menjalankan tradisi kesultanan hingga saat ini. Sebagian kompleks keraton merupakan museum yang menyimpan berbagai koleksi milik kesultanan, termasuk berbagai pemberian dari raja-raja Eropa, replika pusaka keraton, dan gamelan. Dari segi bangunannya, keraton ini merupakan salah satu contoh arsitektur istana Jawa yang terbaik, memiliki balairung-balairung mewah dan lapangan serta paviliun yang luas.
Dimana ada hal menarik yang saya pelajari ketika saya memperhatikan “Abdi Dalem” di Keraton, dimana kata “pengabdian” yang makin langka di ibukota, menjadi sesuatu yang popular dan membanggakan melalui totalitas ketulusan mereka di Keraton Yogyakarta. Buat yang belum tau, akan saya coba jelaskan : Abdi dalem merupakan orang yang mengabdikan dirinya kepada keraton dan raja dengan segala aturan yang ada. Abdi dalem berasal dari kata “abdi” yang merupakan kata dasar dari mengabdi dan “dalem” yang artinya internal.
Satu hal yang pasti, jangan lewatkan kesempatan untuk mengunjungi Candi Borobudur yang masuk dalam daftar Situs Warisan Dunia yang bahkan dalam dunia pariwisata. Borobudur adalah objek wisata tunggal di Indonesia yang paling banyak dikunjungi wisatawan. Salam Traveling ! YOS
YOKATTA NEWS Saatnya ……. Anda Beralih