BMKG Perkuat Layanan Iklim Terbarukan

BMKG Perkuat Layanan Iklim Terbarukan

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bersama Bureau of Meteorology (BoM) Australia menggelar Knowledge Seminar yang bertajuk Weather for Energy Transition in Southeast Asia (WETSA).

Selain memperkuat kerja sama yang telah terjalin sebelumnya, seminar ini diharapkan dapat menjadi sarana berbagi pengetahuan, sebagai bagian dari upaya pengembangan Produk Layanan Iklim di sektor Energi Terbarukan (renewable energy).

Deputi Bidang Klimatologi, Ardhasena Sopaheluwakan, turut memberikan sambutan pada acara seminar tersebut, Ardhasena menyampaikan terdapat dua topik utama yang akan menjadi pembahasan pada seminar yang menjadi hal penting untuk dibahas

“Seminar ini menyoroti dua hal penting, pertama, bagaimana menyampaikan informasi prediksi musim untuk mendukung pengambilan keputusan di berbagai sektor; kedua, yaitu terkait ancaman iklim terhadap sektor energi, termasuk kerjasama BMKG dan BoM Australia dalam pengembangan informasi energi terbarukan atau (renewable energy),”  paparnya.

Seminar dimulai dengan pemberian materi oleh Dr. Clair Spillman sebagai team Leader-Seasonal and Marine Application WP2 BoM yang membahas seputar “Seasonal prediction to support end support end user decision making. Dr. Claire Spillman memaparkan pentingnya prakiraan iklim musiman (subseasonal to seasonal) untuk mendukung pengambilan keputusan di berbagai sektor, seperti energi, pertanian, dan perikanan.

Lebih lanjut Dr. Claire turut membahas terkait program forewarned yang menjadi contoh nyata penerapan informasi iklim program Forewarned is Forearmed menjadi contoh nyata penerapan informasi iklim, dengan melibatkan petani dan pelaku industri dalam memahami dan merespons risiko iklim melalui pelatihan yang sesuai kebutuhan lokal.” Tuturnya.

Seminar dilanjutkan dengan pemaparan materi oleh Jessica Bhardwaj sebagai Hazard & Risk Scientist WP3 BoM yang mengangkat topik mengenai “Climate harzard and risk information for the energy sector.

 Dalam pemaparannya, Jessica membahas mengenai proyek Energy Sector Climate Information (ESCI) yang bertujuan menyediakan data iklim dan cuaca ekstrem bagi sektor energi. Proyek ini mengidentifikasi risiko terhadap infrastruktur dan pasokan listrik akibat perubahan iklim, serta menyediakan proyeksi iklim resolusi tinggi melalui metode downscaling.

Melalui pemaparannya, Jessica menekankan bahwa perubahan iklim dapat berdampak besar terhadap infrastruktur energi—baik dari sisi pembangkitan, transmisi, maupun permintaan energi, dan karena itu sektor energi memerlukan informasi iklim yang spesifik, akurat, dan terperinci untuk melakukan perencanaan adaptif.

“ESCI digunakan untuk merencanakan investasi dan menguji ketahanan sistem terhadap skenario ekstrem, seperti gelombang panas atau kebakaran besar, sehingga sektor energi dapat lebih tangguh dan adaptif di masa depan,” jelasnya.

Check Also

Menko Polkam Ingatkan Sanksi Hukum Atas Tindakan Pengibaran Simbol Pengganti Bendera Merah Putih

Menko Polkam Ingatkan Sanksi Hukum Atas Tindakan Pengibaran Simbol Pengganti Bendera Merah PutihJakarta – Sebentar …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *