Didik J Rachbini: Kesadaran Intelektual dan Harta Paling Berharga (Alm.) Salim Said

Didik J Rachbini: Kesadaran Intelektual dan Harta Paling Berharga (Alm.) Salim Said

Prof. Salim Said, tokoh pers dan perfilman nasional yang juga pernah bertugas sebagai Duta Besar RI untuk Republik Ceko, meninggal dunia setelah dirawat di RS Cipto Mangunkusumo, Jakarta, Sabtu pukul 19.33 WIB.


Kabar meninggalnya Prof. Salim Said itu dikonfirmasi oleh istrinya, Herawaty, dalam pesan singkat yang diterima sejumlah wartawan di Jakarta, Sabtu.


Almarhum dimakamkan di TPU Tanah Kusir, Jakarta Selatan, pada Minggu siang (19/5).

Rektor Universitas Paramadina, yang juga sahabat Salim Said, Didik J Rachbini mengatakan, Salim Said adalah seorang maestro intelektual.

“Pertama, yang perlu dicatat dalam diri Salim Said adalah kesadaran intelektual yang tinggi dan tekun dalam bidangnya: politik militer dan politik secara luas. Meskipun Salim Said dikenal sebagai penulis film dan menekuni dunia wartawan, tetapi kesadaran intelektualnya dalam bidang politik militer lebih bergelora dimana bidang perfileman sudah ditinggalkan atau setidaknya dikurangi ketika menekuni disertasi PhD dan sesudahnya,” ujar Didik dalam pernyataan tertulisnya yang diterima di Jakarta, Minggu (19/5) malam.

Didik mengatakan, meskipun tidak ikut arus intelektual kekinian, demam scopus, tetapi seluruh pengetahuannya tentang politik militer sangat mendalam dan detail. Itu didapat dari gabungan atau blending antara riset kualitatif mendalam dengan wawancara investigatif – ciri dari gaya majalah Tempo.

Kedua, kesadaran politiknya yang sangat kuat, terutama blending dengan kesadaran nasionalismenya. Menurut Didik, seluruh analisanya terhadap politik Indonesia meletakkan posisi yang jelas ideologi yang berkembang sejak orde lama: kelompok kiri, nasionalis dan Islam.

“Contoh terakhir diskusi pribadi dengan saya tentang Islam, yang tersambung dengan pemikiran Cak Nur, ‘islam yes partai islam no’ di masa lalu. Menurutnya pikiran Cak Nur itu adalah pembebasan terhadap warga muslim di Indonesia yang bebas dalam berpolitik tidak harus, wajib memilih partai Islam. Dengan pemikiran Cak Nur tidak perlu golongan Islam yang satu mengkafirkan yang lain karena tidak memilih partai Islam. Sebab, tidak ada jaminan juga partai Islam bersih dari korupsi dan bisa memperjuangkan kesejahteraan, kebebasan dan demokrasi,” paparnya.

Menurut ekonom senior INDEF itu, catatan dari kesadaran intelektualnya terlihat dari ribuan buku yang menjadi harta paling berharga bagi dirinya. “Saya datang ke lantai 2 rumahnya yang cukup luas, itu pun tidak mampu menampung buku-buku miliknya. Menurut Salim Said buku-buku itu dikumpulkan puluhan tahun setiap perjalanan dan seminar-seminar ke luar negeri,” papar Didik.

Didik berkisah, suatu ketika pada akhir tahun 2022, Salim Said menelpon dirinya dan berbicara khusus tentang buku-bukunya. “Saya sudah tua dan buku-buku ini tidak ada pewarisnya dan sejak saat ini saya perlu konsultasi dengan Didik agar buku ini aman, berguna dan manfaat untuk siapa saja,” ujarnya.

Memang niat ini, kata Didik, sudah disampaikan secara publik dan sudah diserahkan ke perpustakaan nasional sebagian tetapi tidak diteruskan karena digeletakkan begitu saja.

Sahabat Didik, rektor UII Yogyakarta, Prof Fathul Wahid, juga menelpon dirinya dan mengatakan bahwa dia tertarik untuk mendapatkan buku-buku tersebut. Kemudian keduanya bertemu. “Saya menjadi saksi serah terima dengan syarat ketat: ruangan khusus (karena memang banyak sekali 10 ribu buku), mudah dijangkau yang baca, ruang baca, dll. Saya juga ikut melihat proses pengiriman bertahap, ikut ke Yogya,” ujar Didik.

Didik mengatakan, yang menarik adalah ketika di usia hampir 80 tahun, Salim Said dengan kesadaran intelektualnya menyadari bahwa kumpulan buku-buku bacaannya yang berat adalan kekayaan pribadi sekaligus kekayaan intelektual yang berguna.

Karena itu, sebelum tiba “waktu Tuhan” menentukan nasibnya, kekayaan itu harus selamat. Saat ini, kata Didik, ribuan buku akademik bermutu itu tersimpan rapih di UII, Salim Said Corner, Perpustakaan Pusat dan pasti bermanfaat secara akademis.

“Saya berharap para akademisi senior yang pasti banyak sekali koleksinya meniru Salim Said. Saya sempat sedih warisan Mas Dawam (Prof Dawan Rahardjo) belum sempat terwariskan seperti ini. Universitas Paramadina mempunya program ini dimana akademisi senior dapat mewariskan buku-bukunya untuk menjadi kekayaan universitas,” katanya.

Meskipun pendapatan terbatas, seorang intelektual sudah pasti mencintai buku dan banyak sekali koleksinya. Didik mengatakan, sudah setahun terakhir ini, sebagai contoh, ribuan koleksi buku Faisal Basri menghiasi dinding-dinding kantor lembaga think tank INDEF. 

Dia berujar bahwa Salim Said kecewa dengan pensiun dubes yang sangat kecil, tidak manusiawi, dan berada di bawah gaji buruh kasar. “Sempat, berharap saya membantu untuk menjadi penasihat-penasihat perusahaan media agar nilai jurnalisme di media itu ada bobotnya, sekaligus bisa menjadi tambahan membeli obat untuk komplikasi sakitnya,” keluh Didik.

“Itulah perjalanan seorang maestro intelektual, yang saya pandang paling hebat, paling detail dan paling mendalam pengetahuannya tentang politik militer di Indonesia, bahkan juga negara lain,” pungkasnya. ***

Check Also

Menko Polkam Ingatkan Sanksi Hukum Atas Tindakan Pengibaran Simbol Pengganti Bendera Merah Putih

Menko Polkam Ingatkan Sanksi Hukum Atas Tindakan Pengibaran Simbol Pengganti Bendera Merah PutihJakarta – Sebentar …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *