Menkeu Bertemu Presiden IsDB, Dukung Reformasi IsDB
Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati melakukan pertemuan dengan Presiden Islamic Development Bank (IsDB) Mohammed Al Jasser di Riyadh.
Pada kesempatan tersebut, Menkeu menyampaikan dukungannya dalam langkah reformasi IsDB untuk memperkuat dan meningkatkan kinerja aspek keuangan dan operasional IsDB agar semakin efektif, berdaya guna dan efisien.
Menkeu Sri Mulyani menuturkan, 57 negara anggota IsDB, 27 adalah negara Least Developed Countries serta 32 negara berada dalam situasi “fragile” karena perang atau konflik.
“Tantangan pembangunan negara-negara ini sangat besar dan kompleks. Karena itulah diperlukan peran IsDB guna membantu membangun dan memperbaiki kesejahteraan negara-negara anggotanya sangat penting,” ujar Menkeu Sri Mulyani.
Menkeu Sri Mulyani menegaskan, Indonesia sebagai pemegang saham IsDB siap membantu mendorong kemajuan IsDB agar bisa membantu lebih banyak ke negara-negara anggota yang membutuhkan.
“Ini bentuk kongkret kerjasama Selatan-Selatan (South-South Cooperation),” tegas Menkeu Sri Mulyani.
Tantangan Transisi Energi
Dalam acara tersebut, Menkeu Sri Mulyani menjadi pembicara perempuan tunggal di antara dua pembicara pejabat tinggi Saudi Arabia.
“Hari ketiga dan sekaligus hari terakhir di Riyadh, acara saya adalah menjadi pembicara dalam panel diskusi yang sangat prestisius-bersama HRH Prince Abdulaziz Al-Saud (Putra Raja Salman dan sekaligus Menteri Energi Saudi Arabia) dan Presiden IsDB Al Jasser,” ungkapnya.
Bagi Menkeu Sri Mulyani ini adalah suatu kehormatan dan privilege. Pada kesempatan itu, topik mengenai pentingnya Transisi Energi serta bagaimana upaya setiap negara dan dunia dalam menghadapi tiga tantangan krusial (Trilemma). Yaitu Energy Security – Energy Sustainability – Energy Affordability, menjadi fokus utama dalam diskusi.
Energi adalah kebutuhan dasar manusia sekaligus menjadi tantangan pembangunan untuk membangun dan menyediakan (Energy Security) secara terjangkau bagi masyarakat (affordable). Disisi lain, perhatian mengenai aspek sustainabilitas planet untuk menghindarkan ancaman katastropik perubahan mengharuskan transisi menuju Energy yang hijau dan renewable (Sustainability).
”Proses transisi Energy bukan hanya rumit dan kompleks namun juga sangat mahal (tinggi) pembiayaannya. Kita harus mampu menjaga kepentingan nasional dan memperjuangkan sebuah proses transisi yang adil (just) dan terjangkau (affordable),” kata Menkeu.
Selanjutnya, Menkeu juga menjelaskan mengenai langkah dan tantangan Indonesia untuk menjalankan transisi energy menuju zero emission dan meningkatkan energy renewable. Dimana, langkah tersebut juga dikatakan Menkeu memerlukan desain kebijakan yang kompleks dan sensitif serta membutuhkan pembiayaan yang sangat besar dan menantang.
Selain itu, Menkeu juga menekankan pentingnya APBN yang sehat dan kuat serta strategi pendanaan global yang efektif untuk dapat menjalankan transisi energi secara efektif dan berkelanjutan. Di samping negara dan Islamic Development Bank yang juga harus turut menjawab tantangan masa depan yang makin kompleks dan dinamis
“Senang bisa menjelaskan posisi Indonesia yang mendapat respek dari seluruh panelis dan audience,” tutur Menkeu Sri Mulyani.
YOKATTA NEWS Saatnya ……. Anda Beralih