BKPM Jemput bola mengunjungi para investor ke Jepang. Pengusaha Negeri Sakura ini diyakini masih berkomitmen menambah amunisi jumlah investasinya di Tanah Air.
Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) tancap gas untuk memenuhi target ambisius investasi Rp594,8 triliun pada 2016. Pasalnya, jika target itu terpenuhi, jumlah serapan tenaga kerja mencapai 2 juta orang. Target investasi ini naik 14,4% dibanding proyeksi tahun lalu sebesar Rp519 triliun.
Sebagaimana diketahui, Realisasi investasi pada 2015 menembus angka Rp540 triliun. Jumlah ini telah melampaui target investasai 2015 sebesar Rp519 triliun. Persentasi target investasi tahun ini naik 14,4% menjadi Rp594,8 triliun dari target tahun lalu sebesar Rp535 triliun hingga Rp540 triliun.
Mungkin itu sebabnya, Kepala BKPM, Franky Sibarani, melakukan lawatan ke Jepang akhir bulan lalu. Bukan hanya promosi, Franky ke Jepang dalam rangka kegiatan untuk menarik investasi ke Indonesia. Alhasil, pria berdarah batak ini sukses menarik para investor di Negara Sakura itu. Tercatat, beberapa pengusaha Jepang menyatakan minatnya untuk berinvestasi di Indonesia dengan nilai US$4,48 miliar atau kurang lebih Rp60,5 triliun (estimasi kurs: Rp13.500 per US$).
Franky Sibarani mengungkapkan, nilai itu terdiri atas minat untuk melakukan perluasan investasi sebesar US$40 juta, minat investasi baru sebesar US$1,725 miliar, dan komitmen investasi ditandai dengan telah memiliki izin prinsip (IP) sebesar US$2,719 miliar. Dalam kegiatan roadshow pemasaran investasi di Jepang yang dilaksanakan 25−28 Januari lalu, Kepala BKPM secara berturut-turut telah melakukan promosi investasi ke empat prefektur, yaitu Aichi (Nagoya), Okayama, Tokyo, dan Saitama. “Kunjungan yang dilakukan bertujuan untuk meyakinkan calon investor potensial serta bertemu dengan investor yang telah menanamkan modalnya di Indonesia. Selain itu, kami juga menyelesaikan beberapa persoalan yang mereka hadapi,” ujar Franky dalam keterangan resminya, Selasa, 2 Februari silam.
Minat investasi yang muncul dari pengusaha Jepang tersebut tidak lagi didominasi oleh sektor-sektor tradisional, seperti sektor otomotif dan elektronik. Namun, telah berkembang ke sektor properti dan pembangunan terminal di bandara NTB. “Diharapkan diversifikasi melalui sektor-sektor baru ini akan terus berlanjut,” jelasnya.
Dari total minat investasi yang terkait dengan perluasan investasi perusahaan Jepang yang ada di Indonesia sebesar US$40 juta datang dari bidang industri isolasi tahan panas.
Sementara, minat investasi baru sebesar US$1,725 miliar. Ini terdiri dari minat investasi di bidang moda transportasi massal dengan nilai US$1,1 miliar, pembangunan pembangkit listrik sebesar US$400 juta, pembangunan terminal bandara dengan angka US$200 juta, pembangunan jalur pipa gas sebesar US$20 juta, industri bahan bangunan mencapai US$3 juta, dan industri mesin pertanian dan komponennya dengan nilai US$2 juta.
Selain itu, terdapat juga komitmen investasi yang sudah memperoleh Izin Prinsip dari BKPM sebesar US$2,719 miliar, yang terdiri dari pembangunan pembangkit listrik sebesar US$2,7 miliar, pembangunan dan pengembangan properti dan real estate dengan nilai US$10 juta, serta industri suku cadang dan aksesori kendaraan bermotor roda empat atau lebih mencapai US$9,2 juta. “Mayoritas dari minat dan komitmen investasi tersebut berlokasi di Pulau Jawa. Selain itu ada beberapa minat investasi di bidang pembangkit listrik di Provinsi Sumatera Utara dan di bidang pembangunan terminal di Nusa Tenggara Barat,” lanjutnya.
Berdasarkan data BKPM, realisasi investasi Jepang di Indonesia pada 2015 mengalami peningkatan sebesar 6% dibandingkan periode 2014. Realisasi investasi Jepang tercatat sebesar US$2,87 miliar dengan total proyek 2.030 proyek, dan menyerap 115.400 tenaga kerja.
Sementara, untuk komitmen investasi Jepang di 2015, nilainya mencapai US$8,1 miliar atau meningkat 95% dari tahun sebelumnya. Komitmen investasi tersebut berada di peringkat ketiga teratas dari daftar negara sumber komitmen investasi.
Di atas Jepang, terdapat Cina sebesar US$22,2 miliar atau naik 42% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Kemudian, Singapura naik 69% menjadi US$ 16,3 miliar. Setelah Jepang, Korea Selatan juga mencatatkan kenaikan komitmen investasi 86% menjadi US$4,8 miliar.
Banten Meningkat
Upaya Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mendorong industri substitusi impor dan orientasi ekspor dalam rangka meningkatkan daya saing mulai menunjukkan hasilnya. Hal tersebut ditandai dengan ekspansi yang dilakukan oleh perusahaan Jepang, PT Asahimas Chemical (Asahimas).
Perusahaan tersebut telah meningkatkan kapasitas hingga mencapai US$885 juta atau setara Rp11,8 triliun (estimasi kurs: Rp13.400 per US$). Ekspansi yang dilakukan di antaranya perluasan pabrik ke-9 senilai US$425 juta, serta pembangunan PLTU 300 MW (2 x 150 MW) dengan nilai investasi US$460 juta.
Franky Sibarani menyampaikan, perluasan pabrik Asahimas akan meningkatkan kapasitas produksi menjadi dua kali lipat yang akan memperkuat industri substitusi impor bahan kimia dasar. “Perluasan yang dilakukan oleh Asahimas sangat positif untuk peningkatan daya saing Indonesia, terutama untuk mengurangi impor bahan baku dan menghemat devisa negara senilai US$97 juta per tahun,” ujarnya di Cilegon, Banten, pekan lalu.
Proyek perluasan ini memperlihatkan iklim investasi di Indonesia yang kondusif dan berdaya saing. Hal ini dibuktikannya dari Asahimas yang tetap dapat menjalankan usahanya, bahkan melakukan perluasan sebanyak 9 kali sejak berdirinya di tahun 1986.
Franky melanjutkan, selain mendorong industri substitusi impor, perluasan yang dilakukan oleh Asahimas memiliki nilai strategis karena berorientasi ekspor. Nilai ekspor PMA Jepang ini akan meningkat sebesar US$280 juta per tahun, dari semula US$120 juta per tahun menjadi US$400 juta per tahun. “Investasi ini akan memperkuat daya saing Indonesia di ASEAN, baik dari sisi ketersediaan bahan baku bagi industri di dalam negeri maupun kontribusi terhadap ekspor,” imbuhnya.
Dari sisi tenaga kerja, proyek perluasan Asahimas menyerap tambahan TKI sebesar 245 orang, dari total tenaga kerja saat ini sebanyak 1.000 orang. “Ini positif terhadap kemanfaatan investasi dengan menyerap tenaga kerja di Provinsi Banten. Tahun lalu, investasi yang masuk di Banten menyerap lebih 100 ribu tenaga kerja,” ungkapnya.
YOKATTA NEWS Saatnya ……. Anda Beralih