Pebisnis Ulung, Selama Lima Presiden Sofyan Wanandi menerima penghargaan dari pemerintah Jepang.

Pebisnis Ulung, Selama Lima Presiden

Sofyan Wanandi menerima penghargaan dari pemerintah Jepang. Itu karena jasa dan kepiawaiannya membina hubungan baik antara Indonesia-Jepang 

Wajah Sumringah menghiasi paras Sofyan Wanandi, Staf Ahli Wakil Presiden.    Satu kehormatan besar dia terima, bukanlah dari pemerintah Indonesia. Dianggap punya andil besar dalam membina hubungan Indonesia-Jepang, justru pemerintah Negeri Sakura yang malah  memberikan satu tanda kehormatan kepada pengusaha yang lahir di Sawah Lunto Sumatera Barat itu. Mantan ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) ini dihadiahi penghargaan ‘Order of the Rising Sun, Gold and Silver Star’ oleh Pemerintah Jepang, memasuki hari pertama bulan ini.

Penghargaan itu diberikan atas jasa Sofjan yang berhasil meningkatkan hubungan bilateral ekonomi RI-Jepang khususnya di sektor ekonomi, perdagangan dan investasi selama setengah abad  sepuluh tahun.

Semestinya, anugerah itu dia diterima di Kota Tokyo. Namun dikarena Sofyan tidak sempat memenuhi acara penganugerahan itu, maka Sofyan menerima  Bintang yang  diberikan langsung oleh Duta Besar Jepang untuk Indonesia Yasuaki Tanizaki itu, di Kediaman Kedutaan Besar Jepang, Jakarta Pusat.

Yang bikin heboh, acara penganugerahan itu dihadiri Wakil Presiden Jusuf Kalla dan sejumlah menteri kabinet Kerja seperti Menteri Perdagangan Tomas Lembong, Menteri Perindustrian Amran Sulaiman, Menko Polhukam Luhut Pandjaitan dan Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara. Bahkan Ibunda Sofjan Wanandi yang sudah sepuh pun, dengan bangga turut hadir menyaksikan pengalungan medali iut untuk putranya.

Sofjan pun mengucapkan terima kasih atas penghargaan itu, terlebih kepada pemerintah dan Kaisar Jepang. “Saya menyampaikan rasa terima kasih saya kepada Kaisar dan Pemerintah Jepang. Penghargaan ini merupakan pengalaman yang akan membuat saya lebih rendah hati,” kata Sofjan di kediaman Dubes Jepang.

Sofyan pun berharap hubungan Indonesia Jepang lebih baik lagi ke depannya. Puja puji datang dari Wakil Presiden Jusuf Kalla. JK bilang, sudah sewajarnya mantan Ketua Apindo itu dihadiahi penghargaan tersebut. Komentar mantan Ketua Umum Partai Golkar itu dilontarkan bukan tanpa sebab. Menurut JK, tak ada sosok lain yang bisa membawa hubungan bilateral RI-Jepang sampai ke titik ini. “Pertama atas nama pemerintah dan pribadi, saya ingin sampaikan selamat pada Bapak Sofjan Wanandi yang pada malam ini secara resmi mendapat penghargaan dari Kaisar Jepang,” ucap JK.

Order of the Rising Star pertama kali diluncurkan pada 1875 setelah restorasi Meiji. Penghargaan itu diberikan kepada mereka yang telah melakukan banyak jasa di berbagai bidang tertentu seperti hubungan internasional, mempromosikan kebudayaan Jepang, sangat menguasai bidang pekerjaannya, serta berkontribusi bagi kesejahteraan dan lingkungan hidup.

Dalam wawancara langsung dengan Yokatta News, Sofyan mengatakan bukan tanpa sebab menerima anugerah bintang itu. Sembari mengaku bukan baru kemarin, Sofyan mengaku sudah sejak Tahun 1968 mulai merintis hubungan Indonesia dengan Jepang. Hasilnya, di awal pemerintahan Presiden Soeharto, Jepang bersedia memberikan pinjaman 30 juta US Dolar kepada pemerintah Indonesia yang masa itu di pimpin Presiden Soeharto.

Padahal dijaman itu, kebencian rakyat Indonesia atas penjajahan Jepang belumlah sirna. Maka banyak kritikan yang muncul kepada aktivis Tahun 1966 ini.  Sambil meyakinkan pemerintah Indonesia, Sofyan juga mengaku terus berusaha membujuk rayu para pengusaha dan pemerintah Jepang, untuk menanamkan investasi di Indonesia. Meski Jakarta sempat dilanda kerusuhan Malari, Sofyan tetap berupaya meyakinkan pihak  Jepang, bahwa kondisi keamanan nasional masih bisa dikendalikan Presiden Soeharto.  Hingga saat ini, Sofyan dianggap banyak melakukan loby bisnis Indonesia-Jepang.

Box

“Mantan Aktivis Yang Berjiwa Interpreneur”

Sofjan Wanandi adalah pengusaha Indonesia dan pemilik bisnis Gemala Group. Mantan aktivis 1966 ini telah memiliki banyak pengalamannya dalam bidang ekonomi, birokrasi, dan politik. Sedari kecil, Sofjan telah bersentuhan dengan dunia usaha.

Ketika masih duduk di SMP Padang, Sofjan Wanandi sudah menjadi penjaga toko kelontong dan binatu, milik ayahnya sendiri. Namun, selepas dari SMP dia ke Jakarta untuk melanjutkan sekolahnya.

Ketika menjadi mahasiswa ini, kiprahnya beralih ke dunia aktivis. Ketika pecah insiden G-30-S/PKI, ia terlibat dalam pertengkaran ideologi dengan Partai komunis Indonesia (PKI). Karier aktivismenya dia lanjutkan dengan menjadi Ketua KAMI Jaya.Demi perlawanan atas paham komunis, tanpa menghitung untung rugi dia langsung terjun ke lapangan.

Sebagai salah seorang Ketua KAMI Jaya, dia memimpin pelbagai aksi hingga akhirnya, dia harus dibui oleh pemerintahan Soekarno. Hanya lima hari dipenjara, dia akhirnya dilepaskan kembali.

Ketika pemerintahan beralih ke presiden Soeharto, dia ikut bergabung dalam Golkar. Sofjan juga dekat dengan Ali Murtopo serta ikut membantu menjadi sekretaris pribadi Soedjono Humardani yang saat itu merupakan orang-orang di lingkaran dalam kekuasaan Soeharto.

Karena terlalu sibuk, sebenarnya dia meminta cuti pada Soejono untuk menyelesaikan skripsi. Tetapi dia diminta berhenti kuliah saja dan Sofjan benar-benar berhenti kuliah ketika berada pada tingkat lima pada 1965.

Sofjan menjadi anggota DPR dan termasuk anggota yang termuda saat itu bersama 10 rekan mahasiswa lainnya seperti Cosmas Batubara, Nono Makarim, Fahmi Idris, Abdul Gaffur, David Napitupulu, dan Marie Muhammad.

Pada akhirnya, kiprahnya di dalam dunia usaha kembali ia raih. Cita-citanya menjadi pengusaha mulai menjadi kenyataan pada 1974 yakni hanya beberapa saat setelah peristiwa Malari 15 Januari 1974.

Ia dipercayai Yayasan Kostrad memimpin sejumlah perusahaan. Kala itu ia menjabat Wakil Presiden Direktur PT Dharma Kencana Sakti yang membawahkan PT Garuda Mataram (perakit mobil), PT Mandala Airways, dan PT Dharma Putra Film. Ketika memimpin PT Tri Usaha Bakti, ia terjun ke dalam usaha di bidang industri, perkapalan, asuransi, dan konstruksi.

Kemudian, berawal dari PT Pakarti Yoga, Sofjan merintis bisnisnya di Grup Gemala. Perusahaan yang dia rintis ini mendapatkan modal Dengan surat tanah rumah ayahnya dan gedung CSIS. Gedung CSIS sendiri ia gadaikan setelah mendapatkan lampu hijau dari Ali Murtopo. Berkat kerja kerasnya Grup Gemala (hingga 2008) telah mempekerjakan lebih dari 15 ribu tenaga kerja telah berkiprah di mancanegara (Australia dan Kanada). Membawahi beberapa perusahaan besar seperti asuransi Wahana Tata, pabrik aki PT Yuasa Battery Indonesia dan pabrik farmasi.

Pada akhir 2008, dia menjadi orang nomor satu dalam lingkungan pengusaha di Indonesia. Sofjan terpilih sebagai Ketua umum Asosiasi Pengusaha Indonesia Apindo yang terpilih dalam Munas VIII di Hotel Borobudur, 27-29 Maret 2008. Sofjan memimpin Apindo untuk periode 2008-2013. Ini adalah kali kedua dia memimpin Apindo setelah pada periode sebelumnya ia juga terpilih. Sebagai Ketua Apindo, Sofjan berusaha menjembatani perbedaan itu dengan memelopori terjadinya kesepakatan bipartit antara pekerja dan pengusaha. JP.Hasibuan

Check Also

Menko Polkam Ingatkan Sanksi Hukum Atas Tindakan Pengibaran Simbol Pengganti Bendera Merah Putih

Menko Polkam Ingatkan Sanksi Hukum Atas Tindakan Pengibaran Simbol Pengganti Bendera Merah PutihJakarta – Sebentar …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *